Motivasi dari Al Qur'an

  • Bertobatlah

    Dosa dan maksiat tidak hanya akan menghalangi seseorang dari rahmat dan ridha Allah, tetapi juga akan meng-halanginya dari mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkannya.

  • Ambil Resiko Itu

    Setiap perbuatan, baik atau buruk pasti memiliki risiko. Seseorang tidak akan menanggung risiko atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Jika dia berusaha dan bekerja keras untuk kebaikan dan keselamatan dirinya, dia akan menerima risiko atas apa yang dikerjakannya.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mata Air 9 : Jangan Menjual Kehormatan Diri

"Dan hendaklah kamu takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (an-Nisaa' [4]:9)

Suatu hari, Rasulullah saw. didatangi oleh seorang lelaki yang setiap harinya mengemis dan tidak pernah berusaha mencari pekerjaan lain.

Rasulullah memperhatikan lelaki itu. Dia tampak ber-putus asa dan lemah tak berdaya. Lelaki itu sudah tidak me¬miliki kepercayaan diri. Pakaiannya compang-camping. Kondisinya buruk. Dan, wajahnya penuh dengan awan mendung kemiskinan. Dia merendahkan diri dengan me-minta-minta kepada orang lain.

Melihatnya, Nabi merasa kasihan. Maka, beliau menyuruh lelaki tersebut untuk membeli kapak kecil, lalu Nabi yang akan membuat gagangnya.

Setelah kapak itu jadi, Nabi menyuruh lelaki itu untuk merobohkan kesedihannya dengan kapak itu. Nabi me-nyuruhnya untuk menghancurkan kelemahannya, meng-hancurkan penghalang yang ada di depan matanya, dan men-campakkan kebiasaan yang ada. Yaitu, kebiasaannya meminta-minta dan mengemis.

Setelah lelaki itu memahami maksud dan tujuan Nabi, Nabi mengutusnya ke suatu desa untuk mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya kepada orang-orang. Dengan begitu, dia telah membeli harga dirinya kembali dengan kemuliaan, kesucian, dan harapan. Nabi ingin menanam benih harapan pada diri orang itu. Nabi ingin menyemai se-mangat berjuang dan bekerja. Di antara perintah Nabi adalah agar lelaki itu tidak menemuinya sebelum lima belas hari.

Benar saja. Setelah waktu yang ditentukan, lelaki itu datang menghadap beliau. Tetapi sudah bukan seperti lelaki lima belas hari yang lalu. Dia datang dengan baju yang tidak lagi compang-camping. Dia datang dengan semangat baru, jiwa baru, kondisi baru, bahkan dengan postur tubuh baru. Kerut-kerut di dahinya sudah hilang. Raut mukanya juga sudah ber-ubah cerah. Kondisinya sudah sama sekali berubah. Hal itu tidak lain karena Nabi menyemai harapan dan menyiram pohon percaya diri sekaligus cinta pekerjaan kepada orang itu.

Jadi, jangan heran kalau setiap pagi dan sore hari Nabi saw. selalu berdoa,
"Ya Allah, aku minta perlindungan-Mu dari derita dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan."

Juga jangan kaget kalau Anda mendapati Allah berfirman dalam Al-Qur'an,
"...Jangan engkau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf [12]: 87)

Jika Anda memberikan nasi kepada seorang pengemis, maka Anda telah memberinya makan selama sehari saja. Jika Anda memberinya beras, Anda mungkin memberinya makan hanya beberapa hari saja. Tetapi, jika Anda memberi¬kan kepadanya kehormatan dan kemuliaan dirinya dengan membuatnya tidak menjadi pengemis dan peminta-minta, maka Anda telah memberikan kepadanya kehidupan dan harapan


Share:

Mata Air 8 : Kesempatan Emas Tidak Datang Dua Kali

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (al-Ashr [103]:1-3)

Umur panjang adalah kesempatan emas termahal yang dimiliki oleh manusia yang masih hidup. Ia lebih berharga dari apa pun yang dimiliki oleh manusia, karena tanpanya manusia tidak akan memiliki apa-apa. Akan tetapi, ia akan menjadi sumber bencana bila tidak digunakan untuk ber-amal dan beribadah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. juga pernah ber-sabda tentang sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya. Sementara manusia paling buruk adalah yang panjang umurnya dan buruk per-buatannya.

Rasulullah saw. juga pernah berpesan —yang digubah menjadi lirik lagu oleh grup nasyid Raihan —agar kita memanfaatkan dengan sebaik mungkin lima kesempatan emas dalam kehidupan kita, yaitu masa muda sebelum datang masa tua, masa sehat sebelum masa sakit, waktu luang se¬belum datang kesibukan, masa kaya sebelum jatuh miskin, dan masa hidup sebelum kematian.

Pepatah Arab mengatakan,
Kesehatan adalah mahkota Di atas kepala orang yang sehat Tidak ada yang melihatnya Kecuali orang yang Sakit

Seorang yang dalam kondisi sehat, dia bisa melakukan pekerjaan apa pun yang dia mau. Melakukan perjalanan sejauh apa pun yang dia inginkan. Akan tetapi, seringkali orang yang sehat tidak menyadari bahwa dia memiliki se¬suatu yang berharga, yaitu kesehatan. Andai ia tidak sehat, tentu dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Banyak hal-hal berharga yang kita miliki, tetapi kita tidak menyadari artinya kecuali setelah ia hilang dari kita. Seorang yang sehat akan merasakan betapa berharganya kesehatan saat dia jatuh sakit. Seorang yang kaya akan merasakan betapa berharganya kekayaan setelah dia jatuh miskin. Seorang yang kafir kepada Allah tidak akan menyadari betapa ke¬hidupan sangat penting untuk melakukan kebaikan kecuali setelah dia mati.

Oleh karena itu, Allah swt. mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam ayat tersebut bahwa waktu sangat ber-harga. Orang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik akan sangat merugi.
Pada ayat itu, orang-orang yang beriman dikecualikan oleh Allah. Mereka tidak termasuk orang-orang yang mengalami kerugian. Ayat ini menunjukkan bahwa di antara ciri-ciri ke-imanan adalah kepandaian mengatur dan mengisi waktu dengan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat (amal saleh), serta bergaul dengan manusia dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
Adanya waktu kosong yang tidak digunakan untuk me¬lakukan berbagai aktivitas dan pekerjaan merupakan awal dari kerugian itu. Sebab, kehidupan hanyalah rentetan detik-detik yang berlalu tanpa pernah kembali. Semakin hari kita semakin dekat dengan kematian, maka tidak ada yang lebih menguatkan kita untuk menghadapinya kecuali keimanan.
Allah mengajari kita kedisiplinan tinggi dalam meng-hargai dan memanfaatkan waktu. Dia telah menetapkan aktivitas yang terstruktur rapi dalam kehidupan kita. Kita mengawali hari kita dengan melaksanakan shalat subuh, dan menutupnya. dengan shalat isya'.

Setiap shalat telah ditentukan waktunya masing-masing. Waktu shalat subuh adalah pagi hari sebelum terbit fajar, tidak diterima bila dilaksanakan setelah terbit fajar. Begitu juga dengan shalat zuhur yang harus dilaksanakan pada waktu zuhur. Shalat zuhur yang dilaksanakan pada waktu ashar tidak akan diterima oleh Allah. Setiap waktu shalat adalah kesempatan yang tetap dan pasti. Bila satu saja dari setiap waktu itu lewat begitu, maka ia tidak akan pernah kembali.
Jadwal aktivitas ibadah ritual mingguan juga Allah tetap-kan dalam bentuk shalat jum'at. Ia berbeda dengan ibadah-ibadah ritual harian karena berisi khotbah jum'at untuk mengembalikan fitrah intelektual dan spiritual kita kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw., setelah selama se-minggu di tempat kita beraktivitas, ia mengalami benturan dengan nilai dan budaya yang berlawanan dengan sistem nilai yang kita anut.
"...Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktu-nya atas orang-orang yang beriman." (an-Nisaa' [4]: 103)

Kesempatan Emas Milik Abu Dujjanah

Pada Perang Uhud, Rasulullah saw. berdiri sambil meme-gangi pedangnya. Beliau berkata, "Siapa yang mau meng-ambil (pedang) ini?" Semua sahabat pun mengulurkan tangan sambil berteriak, "Aku... aku..."

Nabi pun kembali berkata, "Siapa yang berani meng-ambil pedang ini dan mempertanggungjawabkannya?" Para sahabat terdiam.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar Abu Dujjanah berteriak lantang, "Aku yang akan mengambilnya, dan aku akan ber-tanggung jawab karena telah berani mengambil pedang itu."

Abu Dujjanah bergegas maju ke medan pertempuran melawan kaum kafir di barisan depan. Dia mengeluarkan kain merah dari sakunya dan mengikatkannya di kepala.
Kaum Anshar berkata, "Abu Dujjanah mengeluarkan atribut pasukan berani mati. Setiap bertemu musuh, dia pasti akan membunuhnya."

Abu Dujjanah pada suatu saat menceritakan kenangan-nya itu, "Waktu itu, aku melihat seseorang yang begitu berapi-api membakar semangat tentara kafir. Aku segera meng-hampirinya. Tetapi, ketika kuacungkan pedang, orang itu menggigil ketakutan. Ternyata dia seorang wanita. Maka aku tidak jadi membunuhnya. Aku menghormati pedang Rasulullah hingga tidak membunuh wanita itu."

Sosok Abu Dujjanah adalah orang yang paling ber-untung. Meski dia tidak sekelas dengan Abu Bakar, tidak sekuat Umar bin Khaththab, tidak selincah Ali bin Abu Thalib, dia juga tidak semulia Utsman bin Affan di mata Rasulullah. Akan tetapi, dia memperoleh kesempatan ter-mahal yang tidak dimiliki oleh keempat sahabat Rasulullah itu, berperang dengan menggunakan pedang Rasulullah saw.

Rasulullah menawarkan pedang itu kepada para sahabat-nya dua kali. Ketika penawaran pertama, tanpa syarat "bertanggung jawab," semua sahabat menawarkan diri untuk menggunakan pedang itu. Namun, pada penawaran kedua, setelah ditambahkan syarat pertanggungjawaban itu, mereka terdiam kecuali Abu Dujjanah.

Apa yang diinginkan oleh Rasulullah dari mereka? Tidak lain adalah keberanian, percaya diri dan keseimbangan kinerja antara emosi dengan pikiran.

Bukti keberanian Abu Dujjanah adalah dia mengikatkan kain merah di kepalanya sebagai tanda "Pasukan Berani Man". Meski demikian, dia tidak berlebihan dan tetap dalam kondisi emosi yang terkehdali. Buktinya, ketika dia mengetahui bahwa orang yang mengobarkan semangat pasukan kafir itu adalah seorang wanita, dia tidak jadi membunuhnya.

Medan pertempuran, tidak berbeda dengan medan kehidup¬an. Di medan pertempuran, setiap orang mempertaruhkan nyawa untuk memperoleh kemenangan dan hanya ada dua pilihan, menang atau mati.

Sementara di medan kehidupan, setiap orang memper-taruhkan waktu, umur dan tenaganya untuk bisa hidup bahagia dan sejahtera. Akan tetapi, pada keduanya sama-sama membutuhkan keberanian untuk mengatakan "aku bisa" agar bisa tampil sebagai pemenang.

Jika Anda memiliki suatu keahlian yang sangat potensial untuk mengantarkan Anda menjadi seorang yang sukses, usia Anda masih sangat muda, tenaga dan kondisi kesehatan Anda sangat prima, namun ketika ada peluang dan kesem¬patan yang sesuai dengan bakat dan keahlian Anda datang menghampiri dan Anda tidak berani menangkapnya, maka semua kelebihan yang Anda miliki tidak akan berguna sama sekali.
Share:

Mata Air 7 : Bulatkan Tekad Dan Jaga Komitmen Diri

Justify Full
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga)orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(Huud[11]:112)

Salah satu kisah peperangan yang paling berat dan meng-harukan dalam sejarah Islam adalah ketika pasukan kaum muslimin mengepung pasukan Persia yang berlindung di dalam benteng kota Tustar yang merupakan salah satu benteng terkokoh dan tersulit yang pernah ditaklukkan. Pasukan muslimin dipimpin oleh Abu Musa al-Asy'ari.

Salah seorang anggota pasukan muslimin yang paling tenar dalam peperangan itu adalah Majza'ah bin Tsaur. Dia adalah seorang yang gesit dan lihai memainkan pedang serta memiliki kemauan kuat dan tekad baja. Selama peperangan itu, dia telah membunuh lebih dari seratus tentara Persia dalam duel satu lawan satu sebelum memulai setiap pertempuran. Namanya menjadi momok menakutkan bagi pasukan Persia. Sebaliknya, dia menjadi kebanggaan dan lambang kebulatan tekad pasukan muslim untuk menaklukkan kota Tustar.

Delapan belas bulan pasukan muslim mengepung benteng itu, namun tidak ada tanda-tanda berkurangnya kekuatan pasukan Persia. Sementara itu, Abu Musa al-Asy'ari hampir kehabisan ide memikirkan strategi untuk menembus benteng musuh. Hingga akhirnya, Allah menunjukinya jalan melalui seorang pembelot dari prajurit Persia yang keluarga dan saudara-saudaranya dibantai secara biadab oleh Hurmuzan (komandan pasukan Persia). Orang itu mengatakan bahwa apabila pasukan muslim ingin menembus benteng Tustar, mereka harus memasukinya dengan berenang melewati kanal dan saluran air kota itu.

Abu Musa al-Asy'ari mengutus Majza'ah bin Tsaur untuk mengikuti orang itu dan mempelajari seluk-beluk kanal air menuju istana Kisra Persia. Setelah itu, Majza'ah kembali, Abu Musa pun segera mempersiapkan tiga ratus orang pasukan elit kaum muslimin yang bisa berenang untuk memasuki kota itu melalui kanal dan saluran air menuju pusat kota di bawah pimpinan Majza'ah bin Tsaur.

Di sinilah kebulatan tekad dan komitmen Majza'ah serta anggota pasukan elit yang dipimpinnya untuk menaklukkan kota itu teruji. Aliran air di kanal itu sangat deras dan mematikan. Mereka harus berjuang selama dua jam lebih untuk bisa melewati kanal berbahaya itu. Terkadang mereka bisa berjalan santai karena arus tidak terlalu berbahaya, tapi terkadang mereka terhempas ke sana ke mari karena derasnya arus air.

Ketika sampai di jalan tembus, Majza'ah baru sadar bahwa 220 orang anggota pasukannya hilang terhempas di kanal. Kini, dia hanya memiliki 80 tentara.

Allah Mahabesar. Dia tidak akan menyia-nyiakan setetes usaha yang hamba-Nya lakukan untuk menegakkan kalimat-Nya. Hanya dengan 80 tentara, mereka akhirnya bisa melum-puhkan pasukan Persia yang siap siaga sepanjang jalan menuju gerbang benteng dan membukanya dengan teriakan takbir yang disambut dengan takbir pula oleh pasukan muslim yang telah siap siaga di luar benteng. Mereka segera merangsek masuk ke dalam benteng dan menumbangkan kekuasaan zalim yang menindas dan merampas hak-hak rakyatnya.

Dalam pertempuran itu, Majza'ah menemukan syahid yang menjadi cita-cita tertingginya di ujung pedang Hurmuzan. Mereka berdua terlibat duel yang seru sehingga keduanya sama-sama saling menebas tubuh lawannya. Seandainya Hurmuzan tidak memakai baju besi dia tentu telah tewas oleh sabetan pedang Majza'ah, sedangkan Majza'ah tidak memakai baju besi.

Majza'ah meninggalkan pelajaran berharga bagi kita, generasi muda Islam abad 21. Dia mengajari kita arti sebuah tekad dan komitmen yang tulus terhadap satu tujuan yang jelas, yaitu menguasai kota Tustar untuk membangun peme-rintahan yang berasaskan pada nilai-nilai langit. Kita pun bertanya, apa yang mendorongnya untuk mau berjuang mem-pertahankan hidup melawan derasnya arus air dalam kanal berbahaya itu? Apa pula yang memperkuat mental bertarung-nya sehingga dia mampu membunuh lebih dari seratus orang pasukan Persia dalam duel satu lawan satu? Apa pula yang membuat tiga ratus orang anggota pasukan elit kaum muslimin itu mau menaatinya? Apa yang membuat mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raga dalam setiap pertempuran.

Tekad dan komitmen bukanlah sesuatu yang gampang dimiliki oleh semua orang. Ia lahir dari adanya kejelasan tujuan yang ingin dicapai serta keyakinan diri bahwa tujuan tersebut pasti akan tercapai. Dari mana datangnya keyakinan itu? Keyakinan itu datang dari perasaan dan kepercayaan diri bahwa mereka memiliki "beking" yang Mahakuat dan Mahaperkasa.

Ibaratnya, Anda memiliki orang tua yang kaya dan sangat mendukung setiap langkah dan keputusan yang Anda ambil untuk diri Anda. Anda memiliki tekad kuat untuk melanjut-kan jenjang akademis Anda hingga tingkat magister atau doktor. Anda akan memiliki keyakinan yang lebih, karena bila Anda menghadapi kendala/mansza/, Anda memiliki orang tua yang menjadi "beking" finansial dan siap menyuplai dana untuk Anda.

Tekad yang kuat merupakan salah satu keunikan jiwa manusia yang bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengubah sesuatu yang mungkin menjadi karya nyata. Namun, sebagaimana telah kami katakan bahwa tekad saja tidak cukup. Harus ada keyakinan dan percaya diri. Kedua hal itu hanya bisa muncul dari adanya tempat kembali, tempat bersandar, "beking" yang memiliki kemampuan dan kekuatan jauh di atas kekuatan dan kemampuan kita. Jika "beking" kita memiliki kemampuan sedikit di atas kita, atau sejajar dengan kita, maka rasa percaya diri dan keyakinan untuk sukses akan sangat sulit muncul dari kondisi yang demikian itu. Justru yang akan muncul adalah rasa ragu dan takut gagal.

Itulah sebabnya, Allah mengajari kita tentang cara memiliki tekad yang baik dalam firman-Nya,
"...Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka ber-tawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali 'Imran [3]: 159)
Kata "tekad" dalam bahasa Arab disebut 'Azam. Setelah kebulatan tekad, harus ada tawakal kepada Allah. Tawakal adalah kepasrahan kepada Allah, karena Dia lebih mengeta-hui sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya. Tawakal yang benar akan menimbulkan keyakinan dan ketenangan jiwa. Jika tujuan yang diinginkan tercapai dengan sukses, itu me-rupakan hal terbaik yang Allah tentukan bagi kita. Namun, jika tujuan yang diinginkan tidak tercapai, hal itu juga me-rupakan hal terbaik yang Allah tentukan, ada kebaikan yang tersembunyi di balik setiap kegagalan dan kesulitan yang kita hadapi. (Bacalah bab, "Apa pun Tantangannya, Hadapi dan Nikmati!" dalam buku ini).

Ada banyak kisah ironis yang kita baca dari lembaran kehidupan sebagian orang. Ada orang yang karena hidup dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, dia rela menghabisi hidupnya sendiri; orang tua yang tega menjual kehormatan anak gadisnya hanya untuk memperoleh uang sepuluh ribu rupiah; bocah kecil yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar gantung diri hanya karena nilai rapor-nya rata-rata merah; artis yang justru pada puncak popularitas-nya malah mencaci maki ibunya sendiri, tanpa sadar bahwa dirinya tumbuh besar dari keringat dan derita ibunya sejak dilahirkan hingga dia mencapai popularitas itu; gadis desa dengan pendidikan pas-pasan yang rela menebar goyangan syahwat hanya agar bisa cepat tenar dan bisa punya banyak uang; ustadz yang menceramahi sejuta manusia tetapi lupa mendidik anak dan keluarganya sendiri dengan nilai-nilai yang "dijual" dalam ceramahnya; motivator kelas dunia yang terkenal dengan karya-karya tulis yang luar biasa menggugah serta mengajari manusia cara mencari kebahagiaan sejati, tetapi dirinya sendiri tidak bisa menemukan kebahagiaan itu hingga dia berputus asa dan mengakhiri hidup dengan menggorok lehernya sendiri.

Alangkah tragisnya kehidupan mereka. Sebelum merasa-kan siksaan yang abadi di akhirat, di dunia mereka sudah tersiksa oleh kehidupan yang mereka jalani. Sebagian ber-putus asa karena kesulitan, sebagian lagi justru merasakan puncak kesengsaraan hidupnya adalah ketika meraih sukses di bidang yang digelutinya. Lalu apa sebenarnya yang dicari?

"...Sesungguhnya, neraka itu adalah apiyang bergejolak, yang menge-lupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya." (al-Ma'arij [70]: 15-18)

Neraka di akhirat adalah api yang bisa berbicara dan me¬manggil orang-orang yang berpaling dari nilai-nilai agama. Mengeksploitasi dosa dan maksiat hanya untuk meraih popularitas sehingga memiliki peluang untuk mengumpul¬kan harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Anak Saya Lemah Fisiknya

Namanya Pak Yalid. Dia wali salah seorang santri saya. Dia menceritakan kepada saya tentang anaknya yang ber-nama Yasser. Dia berkata bahwa anaknya itu cukup cerdas, tetapi secara fisik dia lemah.

Pada suatu hari, salah seorang siswa kelas III Aliyah yang di dalam organisasi siswa bertugas mengurus bidang minat dan bakat siswa datang menghadap saya. Dia menyampai-kan bahwa para santri meminta untuk didirikan perguruan seni beladiri yang dilatih langsung oleh guru mereka sendiri. Sebelumnya telah ada perguruan seni yang masuk ke pesantren itu, tetapi tidak terlalu efektif karena pelatihnya berasal dari luar pesantren.

Saya pun menyetujui permintaan itu dan menyuruhnya mendata, berapa orang yang berminat untuk mengikuti latihan beladiri yang rutin akan diadakan dua kali seminggu.

Hasil pendataan itu sangat mengejutkan. Dari sekitar 120 orang santri, hanya 15 orang yang tidak berminat mengikuti latihan beladiri. Hasil itu membuat saya termotivasi untuk melatih mereka dengan serius.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah pada saat per-kumpulan pertama para peserta latihan beladiri itu, saya mendapati Yasser termasuk salah satu dari para santri yang berminat mengikuti latihan beladiri itu. Padahal, orang tuanya pernah mengatakan kepada saya bahwa dia anak yang lemah fisiknya.

Minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Pada akhir tahun, dari 105 orang yang mendaftar pada awal pem-bukaan latihan beladiri itu, hanya tersisa sekitar 10 orang, salah satunya adalah Yasser.

Dari pemantauan selama melatih, saya mengetahui bahwa Yasser memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk me-nguasai seni beladiri. Fisiknya memang tampak lemah, tetapi karena tekad dan kemauan kerasnya, dia menjadi seorang yang cekatan dalam mengatur strategi bertahan dan melaku-kan serangan balik yang cepat. Hingga akhirnya, dia menjadi salah seorang jawara dalam perlombaan seni beladiri antar pelajar di wilayah itu.

Apa yang Membuatnya Berubah?

Tidak ada siapa pun yang mengubah Yasser selain dirinya sendiri. Saya mengetahui dia sangat rajin berlatih dan meng-olah gerakannya.

Pada suatu malam, saya berkeliling untuk memantau situasi keamanan pondok pada malam hari. Dari jauh saya melihat bayangan seseorang sedang berlatih beladiri sen-dirian. Saya mengetahui gerakan itu adalah yang baru saya berikan kepada siswa saya tadi sore.

Setelah mendekat, saya pun mengenalinya, dia adalah Yasser. Ketika mendapat tugas jaga malam, yaitu meronda untuk keamanan pondok, waktu meronda itu dia gunakan untuk berlatih. Dia memiliki kemauan yang kuat dan tekad baja untuk bisa menguasai seni beladiri. Dan sebagai se¬orang laki-laki, adalah menjadi sesuatu yang sangat penting baginya untuk memiliki keahlian itu.

Pada suatu hari, saya bertemu dengan Pak Yalid, orang tua Yasser. Dia berkata kepada saya, "Saya heran dengan anak saya, dulu fisiknya lemah, tapi sekarang dia sudah berubah."
Saya pun menjawab, "Yang tidak bisa diubah adalah takdir yang sudah terjadi, sementara takdir yang belum terjadi adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan tekad dan komitmen yang kuat..."

Fa'idzaa 'azamta fa Tawakkal 'alallaah... (Jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah...)
Share:

Mata Air 6 : Apapun Kesulitannya Hadapi dan Nikmati !



"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan 'Kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi" (al-Ankabuut [29]2)

Tantangan akan membuat Anda semakin pandai, tabah dan kompeten ketika Anda semakin menikmati masalah-masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan Anda terus menaklukkan tantangan tersebut, Anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan-tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda akan tertarik untuk mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!

Sebagai pembuka bab ini, saya akan ceritakan kepada Anda tentang kisah para nelayan Jepang.
Orang Jepang, sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi, persediaan ikan di perairan mereka selama beberapa dekade ini tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan mereka.

Jadi, untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari ukuran sebelum-nya. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan-ikan hasil tangkapan mereka sudah tidak segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan langsung memasukka nya ke dalam freezer untuk dibekukan. Adanya freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dalam waktu yang lama.

Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah, sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga ikan-ikan itu berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan itu berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat me-rasakan perbedaannya. Karena ikan-ikan itu tidak bergerak selama berhari-hari, maka rasa ikan segarnya menjadi hilang. Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.Bagaimanakah perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini? Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar alami ke Jepang?

Jika Anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang akan Anda rekomendasikan?
Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, per¬usahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini, mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam setiap tangki.

Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyak-an ikan akan sampai ke daratan dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang untuk mempertahan-kan hidup dan terus bergerak menghindar agar tidak ter-mangsa oleh ikan hiu kecil itu.

Kesuksesan para nelayan Jepang menghadirkan ikan segar kepada para konsumen adalah karena kegigihan dan ke-beranian mereka mencari dan mencoba macam-macam solusi untuk mengatasi tantangan yang timbul karena selera kon-sumen. Sementara ikan-ikan itu tetap terpelihara kesegaran-nya juga karena adanya tantangan.

Secara umum, kehidupan tidak akan pernah lepas dari tantangan dan kesulitan. Ujian dan tantangan akan datang silih berganti. Tetapi, di balik setiap ujian dan tantangan ter-sembunyi kesuksesan dan kebahagiaan yang besar.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) me-ngatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi?" (al-Ankabuut [29]: 2)

Menjalani hidup tidak sekadar apa adanya, hidup memiliki tujuan. Allah tidak menciptakan semua makhluk yang ada di muka bumi dengan sia-sia atau hanya sekadar hidup dan menikmati segala fasilitas duniawi yang Allah sediakan. Akan tetapi, kehidupan setiap manusia adalah sebuah per-jalanan menuju satu tujuan mulia.

Tujuan yang ingin dicapai setiap orang sudah jelas, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena tujuan itulah, Allah menyediakan berbagai macam kenikmatan, seperti umur panjang, harta benda dan kekayaan, anak dan istri yang setia menemani, dan lain sebagainya sebagai fasilitas untuk men-capai tujuan itu.

Namun, untuk mencapai tujuan itu tidak semudah mem-balikkan telapak tangan. Lihatlah bagaimana orang-orang besar yang memiliki nama besar seperti Rasulullah saw. dengan misi dakwahnya yang mulia.

Rintangan dan ujian apakah yang belum beliau rasakan dalam mengemban misi dakwah itu? Dilempari dengan kotoran unta, diludahi, dilempar dengan batu hingga kepala dan kakinya berdarah. Pengikut dan para sahabatnya diteror dan dibunuh, dikepung dan diboikot sehingga dia dan keluarga dilanda kelaparan dan hanya bisa makan dedaunan. Dikhianati oleh kabilah-kabilah Yahudi Madinah yang telah menan-datangani perjanjian damai dengan umat Islam, serta ujian dan cobaan lain yang belum pernah dialami oleh siapa pun sebelum dan sesudahnya.

Di samping cobaan yang pahit, beliau juga memperoleh ujian dan cobaan-cobaan manis.Beliau pernah ditawari kekuasaan, kekayaan, wanita ter-cantik di tanah Arab dan popularitas di tengah suku Quraisy, dengan syarat beliau harus meninggalkan misi dakwahnya. Kewibawaan dan jiwa kepemimpinan beliau membuatnya dihormati dan ditaati oleh seluruh penduduk Madinah. Apabila beliau meminta mereka mendirikan untuknya sebuah rumah mewah di tengah kota Madinah, mereka pasti akan men-dirikannya. Apalagi setelah Islam tersebar di seluruh tanah Arab. Akan tetapi, beliau lebih memilih untuk menginap sementara di rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Puluhan kali beliau memimpin peperangan hanya pada dua peperangan beliau mengalami kekalahan yang tidak terlalu parah. Harta pampasan perang yang banyak sangat cukup baginya untuk membangun rumah mewah dan meng-isinya dengan perabotan-perabotan yang sangat mahal. Akan tetapi, rumah beliau sangat kecil dan sempit, kasurnya tipis dan berbantalkan lengan beliau sendiri.Lihatlah betapa konsistennya beliau dengan misi dakwah-nya. Kondisi kehidupan yang penuh tantangan beliau lalui dengan penuh rasa syukur dan beliau menikmatinya.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (al-Anbiyaa' [21]: 35)

Betapa indahnya Allah menciptakan kehidupan dengan segala problematikanya. Betapa cintanya Allah kepada manusia sehingga Dia tidak memanjakan mereka dengan sekadar menikmati fasilitas kehidupan itu saja. Allah memberikan kebebasan kepada manusia, apakah dia ingin menjadi orang yang bahagia atau menjadi orang yang sengsara. Untuk dua tujuan itulah, Dia menguji mereka dan memberi banyak tantangan agar mereka menjadi kuat dan tegar.

Ada seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Dia memiliki orang tua yang saleh. Kedua orang tuanya mendidik dia untuk selalu tawakal dan hanya berharap kepada Allah. Karena kekuatan pendidikan orang tuanya itulah, pada setiap shalat dia selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, berilah aku rezeki yang banyak. Berilah aku kekuatan untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik." Begitulah isi doanya setiap usai melaksanakan shalat fardhu.

Ibunya hanya seorang pedagang pisang goreng, sedang-kan ayahnya seorang petani miskin. Pagi hari dia berangkat sekolah, di samping membawa buku-buku pelajaran, dia juga membawa rantang yang berisi pisang goreng buatan ibunya untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah. Sepulang sekolah dia pergi ke sawah untuk membantu ayahnya di sawah. Itu adalah aktivitas rutinnya sehari-hari. Pada hari Ahad, sehari penuh dia habiskan waktunya untuk menjual pisang goreng buatan ibunya.

Selama dua puluh tahun dia tetap dengan doanya itu. Dalam hati dia tidak pernah berputus asa dan tidak pernah mem-bayangkan bahwa Allah tidak mengabulkan doanya. Selama dua puluh tahun itu pula dia menjalani hidup dengan bekerja keras dan menabung dari keuntungannya.

Setiap hari dia bisa menabung paling sedikit Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) dari laba bersih penjualan pisang goreng ibunya setelah dikurangi biaya makan dan kebutuhan harian mereka sekeluarga. Setelah dua puluh tahun, dia sudah me-miliki tabungan sebesar empat belas juta lebih.

Dengan dana tabungan itu, dia pun membuka usaha rumah makan dan mempekerjakan beberapa orang karyawan se-hingga usaha rumah makannya berkembang pesat dan mem-perluas area pemasarannya dengan membuka cabang di beberapa kota besar.

Setelah meraih semua kesuksesan itu, doanya pun berubah. Dia berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku untuk tetap ingat kepada-Mu dan mensyukuri semua nikmat-Mu serta melaksanakan ibadah dengan baik kepada-Mu, dengan rahmat dan karunia-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

Pelajaran apa yang Anda ambil dari kisah itu?

Anak seorang petani miskin yang suka berdoa "Ya Allah, berilah aku rezeki yang banyak. Berilah aku kekuatan untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik."

Apakah Allah mengabulkan doanya? Berapa lama doa itu baru terkabulkan? Apakah Allah memberinya modal uang tunai sebesar empat belas juta lebih untuk membuka usaha rumah makan?

Jangan pernah menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya. Jika tantangan yang Anda hadapi terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan tidak boleh membuat Anda lelah. Sebaliknya, atur kembali strategi Anda. Temukanlah lebih banyak lagi keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.

Jika Anda telah mencapai tujuan Anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga Anda terpenuhi, berpindahlah kepada tujuan ke-lompok Anda, masyarakat, bahkan umat. Malaikat akan men-catat setiap kebaikan Anda yang membuat orang lain merasa bahagia dan tertolong. Sehingga kesuksesan Anda pun menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya meski Anda telah meninggal.

Jangan menciptakan kesuksesan kemudian Anda tidur nyenyak di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk menciptakan kemajuan. Ingatlah bahwa Allah menyembunyikan nikmat-Nya yang luar biasa di balik setiap kesulitan dan tantangan. Sementara setan mengalihkan perhatian Anda dari kenikmatan itu dengan menimbulkan rasa khawatir, waswas, takut gagal, minder, dan tergesa-gesa dalam diri Anda.

Jika Allah menginginkan seorang hamba menjadi orang yang kuat, Dia akan mengujinya dengan ujian dan tantangan kesulitan yang berat. Kemampuannya mengatasi tantangan itulah yang akan menjadikannya kuat. Akan tetapi, kebanyak-an manusia hanya menginginkan yang enak-enak saja, ketika mereka ditimpa sedikit kesulitan mereka mengeluh. Padahal, tidak semua yang enak akan mendatangkan kebahagiaan, seperti halnya tidak semua kesulitan akan membawa keseng-saraan.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah [2]: 216)

Tantangan dan kesulitan tidak selamanya buruk. Ia melatih kita untuk menjadi kuat dan tangguh. Ia mengasah pikiran kita untuk selalu mencari solusi dan cara untuk mengatasi-nya.

Ketika batu itu menyentuh permukaannya, ia mem-bentuk lubang kecil di permukaan air sesuai ukuran batunya. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, permukaan air akan kembali datar seperti semula. Batu tidak meninggalkan bekas sedikit pun terhadap bentuk permukaan air. Justru masuknya batu ke dalam air akan menambah tinggi permukaannya.

Lihatlah layang-layang, jika dia tidak menantang angin, dia tidak akan bisa terbang melayang di udara. Dia akan tetap melayang di udara selama masih menantang angin. Jika angin yang menerpanya lebih keras dia bergerak meng-goyang ke kanan atau ke kiri kemudian naik ke atas. Sesekali dia akan berputar ke bawah membentuk lingkaran kemudian kembali naik menanjak ke atas.

Tantangan dan kesulitan yang dihadapi seseorang adalah latihan yang akan memberinya kekuatan dan pengalaman. Seseorang yang tidak pernah menghadapi kesulitan atau tantangan, dia tidak akan pernah mengalami kemajuan.

Allah swt. menjanjikan kebahagiaan bagi hamba-Nya yang beriman di dunia dan akhirat. Akan tetapi, Allah mem-beri syarat untuk meraihnya yaitu mujahadah (usaha). Allah tidak memberikan kebahagiaan secara "gratis". Dia hanya memberikannya kepada mereka yang "lulus ujian".

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orangyang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (at-Taubah [9]: 16)

Adapun syarat yang Allah tetapkan adalah berjihad dengan harta dan jiwa; menjadikan Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman sebagai teman sejati. Dengan dua syarat itulah, Anda akan bisa meraih kebahagiaan yang tak terbatas di dunia dan akhirat.

Pada prinsipnya, apa yang Allah sediakan di akhirat me-miliki perbedaan yang lebih dari apa yang Allah berikan di dunia. Bagi mereka yang meraih kebahagiaan dan kesukses¬an di dunia dalam ketaatan kepada Allah, Allah menyedia-kan nikmat yang lebih membahagiakan di akhirat nanti.

Begitu pun sebaliknya, mereka yang hidup sengsara dalam ketidaktaatan kepada Allah, mereka akan memperoleh siksa yang jauh lebih menyengsarakan dari kesengsaraan yang telah mereka derita di dunia.

Akhirat adalah masa depan, setiap orang pasti mengingin¬kan masa depan yang lebih baik dan lebih membahagiakan dari masa sekarang. Hanya orang-orang yang melakukan amal perbuatan yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya (bermujahadah) saja yang dapat memperoleh kemajuan di masa depan, baik dunia maupun akhirat.

Adapun orang-orang yang merasakan kebahagiaan di dunia, tetapi di akhirat mereka hidup sengsara dan tersiksa. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kemunduran dan ke-rugian. Kebahagiaan yang mereka raih di dunia hanya fata-morgana, karena tidak membawa kebahagiaan bagi mereka di akhirat. Kebahagiaan dunia yang sejati adalah bila ke-bahagiaan itu memberikan manfaat kebahagiaan yang lebih baik di akhirat nanti.

Modal yang diperlukan untuk memulai suatu kemajuan adalah kemauan, keberanian dan pengetahuan. Sedangkan kekuatan untuk mempertahankannya adalah kejujuran, komitmen, inovasi dan kesabaran.

Tantangan dan kesulitan bukan untuk ditakuti atau di-hindari, tapi harus dihadapi. Tantangan terkadang merupa-kan sesuatu yang bisa dinikmati, sehingga ada sebagian orang yang berpikiran maju menciptakan tantangan untuk dirinya sendiri. Tantangan itu membuat mereka menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif, karena tantangan merupa-kan stimulus yang memancing kreativitas berpikir dan ke-mampuan menemukan solusi.
Share:

Mata Air 5: Jangan Remehkan Kebaikan Kecil


"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi sesorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar."(An-Nisaa' [4]:40)

Buku ini terbentuk dari ribuan kalimat. Setiap kalimat terbentuk dari beberapa kata, dan setiap kata terbentuk dari kumpulan huruf-huruf sehingga membentuk makna. Segala sesuatu yang kita anggap benda besar adalah susunan dari puluhan, ratusan, jutaan, miliaran, atau triliunan benda-benda kecil.

Dalam hal ibadah, terdapat banyak amalan-amalan kecil dan ringan serta mudah dikerjakan, tetapi ia memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah swt., seperti membaca surah al-Ikhlash yang merupakan salah satu surah terpendek di dalam Al-Qur'an. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali baca-nya tidak lebih dari sepuluh detik. Akan tetapi, Rasulullah saw. mengatakan bahwa pahala sekali membaca surah al-Ikhlash sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.

Contoh lain adalah, mengucap salam "Assalaamu 'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh." Jika kita ingin melakukan sebanyak tiga puluh kebaikan, tentu hal itu akan meng-habiskan cukup banyak waktu kita. Akan tetapi, hanya dengan mengucapkan salam itu secara sempurna kepada sesama muslim, Anda telah memperoleh pahala yang sebanding dengan pahala tiga puluh kebaikan.

Masih banyak lagi jenis kebaikan kecil yang mengandung manfaat dan pahala yang sangat besar bagi orang yang me-lakukannya, dan Allah tidak akan pernah menzalimi seorang hamba yang melakukan kebaikan meski sekecil biji sawi sekalipun.



Balasan dari setiap kebaikan yang dilakukan ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan. Semua berlaku atas kehendak Allah swt.

Banyak sahabat yang memperoleh balasan kebaikan mereka di dunia dan di akhirat. Contohnya adalah Abdurrahman bin 'Auf. Setelah dia hijrah bersama Rasulullah saw. ke Madinah, dia tidak memiliki dan tidak membawa apa-apa sebagai bekal hidup. Akan tetapi, keimanan yang mendalam kepada Allah dan kecintaan yang tiada tara kepada Rasulullah saw. telah menganugerahinya kecerdasan finansial yang belum ada tandingannya, sehingga dia menjadi konglomerat yang paling banyak bersedekah dan berjihad di jalan Allah. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah dia menjadi salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah swt.

Allah berkehendak membalas kebaikan setiap hamba-Nya yang melakukan kebaikan, besar maupun kecil, dengan ganjaran pahala di sisi-Nya dan kebahagiaan di dunia.

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah saya ketika menyusun bab ini. Yaitu kisah dari pengalaman saya ketika mengurus izin pendirian Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) al-Jauhar di Bengkalis, Riau.

Ketika akan pulang, saya memesan tiket kapal lebih awal agar memperoleh tempat duduk dan bisa beristirahat dengan cukup dalam pelayaran ke Dumai. Saya memperlihatkan tiket kepada petugas saat memasuki kapal, kemudian dia meng-antarkan saya ke nomor kursi yang tertera pada tiket itu. Akan tetapi, kursi dengan nomor yang dimaksud telah di-tempati oleh seorang nenek tua. Petugas pun meminta tiketnya, ternyata nenek itu belum mempunyai tiket.

Saya mengamati keadaan di sekeliling, tapi tidak ada lagi kursi kosong. Semuanya sudah ditempati. Perasaan iba ter-hadap nenek itu muncul dalam hati sehingga saya biarkan dia menempati tempat duduk saya. Saya memilih untuk berdiri di antara barisan kursi penumpang lain, padahal per¬jalanan dari Bengkalis ke Dumai cukup lama dan melelahkan. Tidak berapa lama saya berdiri, petugas yang tadi mengantar-kan saya datang dan memberi tahu nenek itu bahwa di salah satu sudut kapal itu masih ada satu kursi yang kosong. Dia kemudian mempersilakan saya menempati kursi itu.

Di sebelah kanan saya, duduk seorang bapak yang me-makai baju putih dan berkopiah. Dia menyapa saya dan ber-tanya, "Mau ke Dumai ya?" Saya mengiyakannya. Dia menanya-kan nama, alamat, dan keperluan saya pergi ke Bengkalis. Dia juga menanyakan status pernikahan saya. Saya men-jawab semua pertanyaannya secara jujur. Tidak lama ke¬mudian kami menjadi akrab dan saling bertukar cerita.

Dia bercerita, "Waktu aku seusia kamu, aku sudah ingin menikah, dan aku sudah menemukan gadis yang menarik hatiku. Tetapi, aku belum tahu banyak tentang keluarga-nya, dan tidak ada satu pun keluarganya yang kukenal."

Dia berhenti sejenak sambil menghela napas panjang. Saya mengamati raut wajahnya yang agak tersenyum. Dia lalu melanjutkan ceritanya, "Ketika aku melihat sikap kamu terhadap nenek tadi, aku jadi ingat kenangan masa laluku."

Saya sangat penasaran mendengar kata-kata itu, saya mendesaknya untuk segera menceritakan kenangannya.

"Suatu hari, aku pergi ke Dumai. Dalam perjalanan pulang, aku mendapatkan tempat duduk di dalam bus yang aku naiki. Ketika sampai di daerah Simpang Bangko,ada seorang nenek yang baru naik. Sementara semua kursi telah terisi.

Akhirnya, nenek itu berdiri dan tidak ada seorang pe-numpang pun yang mengasihi dan mempersilakannya duduk. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku mempersilakan¬nya duduk di kursiku. Dia sangat berterima kasih, lalu menanyakan nama dan daerah asalku, di mana aku turun, dan sebagainya. Dia memberi tahuku bahwa dia akan turun di daerah Bangko Sempurna.

Dalam pikiranku, aku berharap semoga ada penumpang yang turun sebelum daerah itu, sehingga aku bisa men-dapatkan tempat duduk. Akan tetapi, justru lebih banyak penumpang yang naik daripada yang turun.

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya nenek itu sampai ke tempat tujuannya di daerah Bangko Sempurna. Sementara aku sudah kelelahan karena berdiri selama dua jam di dalam bus yang penuh sesak itu. Nenek itu menyentuh pundakku sambil mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga aku selamat.

Aku pun duduk kembali dan melupakan sama sekali peristiwa itu. Aku menganggapnya seolah tidak pernah terjadi. Aku sama sekali tidak ingat lagi dengan kejadian itu.

Sekitar empat bulan kemudian, aku dan calon istriku telah sepakat untuk menikah. Dia ingin agar aku bertandang ke rumahnya. Dia ingin memperkenalkanku dengan ke-luarganya. Dia menceritakan kepadaku bahwa di antara ke-luarganya yang tidak menyetujui hubunganku dengan dia adalah ayahnya. Mendengar itu, aku jadi kurang yakin, sehingga pada awalnya aku ingin 'mundur' saja, tetapi dia mendesak agar aku menghadap ayahnya langsung dan ber-terus terang kepadanya.

Dengan modal 'Bismillah' dan shalat sunnah dua rakaat, aku datang ke rumahnya membawa perasaanku yang tidak menentu.

Ibunya menyambutku ramah, tetapi tidak dengan ayah¬nya. Meski demikian, aku berusaha tersenyum ramah dan mencium tangan keduanya. Aku mengamati wajah ayahnya yang acuh terhadap ungkapanku yang jujur ingin menikahi putrinya. Dia bersikeras dengan alasan yang dibuat-buat. Aku sampai mengulang berkali-kali mengutarakan keinginan-ku, tetapi tetap tidak mampu mengubah pendiriannya. Aku pasrah dan sedikit merasa berputus asa.

Di antara kebisuanku di depan keluarganya, tiba-tiba muncul seorang nenek. Aku merasa seolah pernah bertemu nenek itu. Aku berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Nenek itu memandangiku tajam. Dia seolah sedang berpikir juga dan aku segera menyalaminya. Dia lalu menatap wajah putra-nya (ayah gadis itu) dan menanyakan pendapatnya tentang aku. Ayah gadis itu mengambil tangan ibunya dan membawa-nya masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pikiranku masih mencoba mengingat di mana aku pernah bertemu dengan nenek itu. Namun, aku tetap tidak mampu mengingatnya.

Setelah cukup lama duduk menunggu. Semua anggota keluarga gadis itu tiba-tiba berhamburan ke dalam ruangan tempat ayah dan nenek gadis itu masuk. Mereka semua seperti dipanggil untuk memusyawarahkan urusanku. Aku duduk seorang diri di ruang tamu, sambil mengharap jawaban yang membahagiakan. Perasaanku tidak menentu. Dalam pikiranku aku mempersiapkan diri untuk diterima atau di-tolak.

Nenek itu kemudian keluar sambil diiringi oleh semua anggota keluarganya, termasuk ayahnya. Dia menatapku dan aku masih berusaha mengingat di mana kami pernah bertemu. Dia lalu bertanya kepadaku, 'Apakah kamu kenal aku?"

Aku menjawab, "Saya tidak kenal/tapi sepertinya saya pernah bertemu nenek sebelum ini. Tetapi, saya tidak ingat di mana?" Jawabku sambil tetap berusaha mengingat tempat kami pernah bertemu.

"Kalau begitu, keinginanmu untuk menjadi salah satu anggota keluarga kami..., diterima!"

Semua anggota keluarga itu pun tersenyum. Suara riuh mendadak memenuhi isi rumah. Beberapa dari mereka sempat bertepuk tangan. Aku melihat calon istriku itu tersipu-sipu sambil memalingkan wajahnya ke dinding rumah dan tersenyum.

Di antara sorak riang dan kegembiraan mereka, aku masih tetap berusaha mengingat di mana aku pernah bertemu nenek itu. Akhirnya, nenek itu pun menceritakan kepadaku di mana dia pernah bertemu denganku."

Bapak itu tersenyum dan mengakhiri ceritanya dengan berucap, "Alhamdulillah, anakku sekarang sudah empat orang."

Kita terkadang sering tidak memperhatikan kebaikan yang nilainya terasa kecil, dan kita tidak peduli terhadap-nya. Seperti dalam kendaraan umum, ketika ada orang-orang yang sudah tua, wanita hamil, orang cacat dan sebagainya, dan mereka tidak memperoleh tempat duduk, sementara kita masih kuat dan sehat. Kita lebih memilih membiarkan mereka berdiri, meski kondisi mereka lemah.

Mendahulukan mereka adalah lebih baik dan merupakan akhlak mulia. Tanpa mengharapkan balasan dan tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun dari mereka, karena imbalan dan balasan yang paling baik hanya ada di sisi Allah swt. Hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan balasan.

Pahala dan kebahagiaan akhirat tidak hanya dari kebaikan-kebaikan besar. Justru kebaikan kecil terkadang memiliki pahala yang jauh lebih besar dari kebaikan yang' kita kira berpahala besar.

Anda tentu pernah mendengar Rasulullah saw. pernah bercerita kepada para sahabatnya kisah tentang seorang pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Anda juga tentu mengetahui sabda beliau tentang ganjaran pahala untuk orang yang menyingkirkan duri dari jalan umum. Semua itu merupakan kebaikan kecil di mata manusia dan sangat mudah dikerjakan, tetapi pahalanya sangat besar di sisi Allah swt.

Allah tidak pelit untuk membalas kebaikan kecil yang dilakukan hamba-Nya yang ikhlas. Meski ganjarannya kecil, tidak ada pahala sekecil apa pun di hari Kiamat nanti melainkan ia akan menjadi tempat bergantung harapan setiap hamba untuk mengantarkannya ke surga.

Dalam urusan keduniawian, tidak hanya karakter dan perbuatan baik dalam skala besar saja yang mengantarkan seseorang untuk meraih kebahagiaan. Akan tetapi, kebaikan kecil tidak jarang menjadi titik awal seseorang dalam meng-gapai kebahagiaan dan kesuksesan besar dan luar biasa dalam hidupnya.

Tidak ada seseorang yang terlahir ke dunia langsung sebagai orang dewasa yang memiliki segala sesuatu, tetapi dia mengawali hidup sebagai bayi yang tidak bisa apa-apa, ke-mudian menjadi anak-anak, remaja dan orang dewasa yang hidup bahagia dan sukses. Sama halnya dengan kebaikan, setiap kebaikan besar tentu dimulai dari kebaikan yang paling kecil.

Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur'an, "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (ar-Ra'd [13]: 29)

Share:

Mata Air 3: Tetaplah Rendah Hati



"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik"(Al-Furqaan[25]:63)

Rendah hati adalah lawan dari sifat sombong. Sifat sombong berasal dari sifat iblis. Itulah sifat yang mem-buatnya terusir dari surga dan memperoleh jaminan neraka dari Allah swt. Kesombongan iblis digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur'an,

"(Ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu sem.ua kepada Adam,' lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia ber-kata, 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'" (al-Israa' [17]: 61) .

Allah menciptakan Iblis dari api, malaikat dari cahaya dan manusia dari tanah. Faktor psikologis yang mendorong iblis bersikap sombong adalah, dia merasa bahwa dirinya lebih baik. Dia menganggap bahwa unsur api lebih mulia dari tanah, sehingga dia menganggap dirinya lebih baik daripada Nabi Adam. Dia merasa gengsi untuk sujud dan tunduk kepada Nabi Adam yang hanya diciptakan dari tanah.

Pengertian dari rendah hati adalah tidak merasa diri lebih baik, tetapi juga tidak merasa rendah diri yang malah akan membuatnya tidak bisa menggali potensi dan kemampuan dirinya. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan menjadikannya unggul di bidang tertentu, meski-pun di bidang yang lain dia tidak unggul.

Imam Syafi'i mengatakan dalam sebuah syairnya,
"Rendah hatilah! Engkau menjadi seperti bintang,
dia berada tinggi di langit.Tetapi di permukaan air, dia tampak rendah"

Allah swt. memberikan seribu satu macam kemampuan dan potensi dalam diri manusia. Dia juga menciptakan sarana dan fasilitas di alam ini sebagai rangsangan (stimulus), agar potensi dan kemampuan-kemampuan itu tidak tersembunyi dan dapat diolah dan diaktualisasikan.

Semua manusia diberikan akal yang sama, mata yang sama, telinga yang sama, dan hidung yang sama. Semua alat inderawinya sama, bahkan mereka hidup di bumi yang sama. Meskipun semua modal yang Allah berikan itu sama, tetapi beberapa aspek kehidupan mereka berbeda. Mengapa demikian? Perbedaannya terletak pada besar-kecilnya usaha (mujahadah) yang mereka lakukan dan tingkat efektivitas usaha itu.

"Usaha", mungkin Anda akan mengasosiasikannya dengan profesi atau pekerjaan. Meskipun asosiasi Anda itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Sebab pengertian usaha adalah penggunaan seluruh fasilitas inderawi yang diberikan oleh Allah untuk pencapaian tujuan dan keutamaan (fadhaa'il). Untuk usaha yang efektif, diperlukan strategi yang tepat yang dirancang oleh akal. Akal merancang langkah-langkah yang mampu dan bisa dilaksanakan oleh organ-organ tubuh.

Itulah yang menghasilkan perbedaan di antara manusia. Mulai dari usaha orang tua untuk mendidik dan melatih anak-anaknya, hingga usaha seorang remaja dalam mengem-bangkan kemampuan pribadinya.

Sebagai ilustrasi, saya akan menguraikan kepada Anda perbandingan antara dua orang yang memiliki kemampuan yang sama, namun hasil yang mereka peroleh serta pengaruh mereka di masyarakat berbeda.

Zaid dan Amru, keduanya sama-sama memiliki keahlian dan kemampuan khusus. Zaid dengan cepat bisa mencapai tingkat kehidupan yang makmur dan sejahtera, harta benda dan kekayaannya berlimpah. Sementara Amru, meski me­miliki kemampuan dan keahlian yang sama, tetapi dia tetap hidup dalam kesederhanaan, bahkan serba kekurangan.

Dari sisi materi, Zaid hidup dalam kondisi serba ber-kecukupan, keluarganya tenang dan tenteram. Hubungan-nya dengan tetangga biasa saja, tidak ada kesan istimewa bagi para tetangganya tentang dia. Sementara Amru, meski dia hidup sederhana, keluarganya juga sederhana dan me-nerima keadaan mereka apa adanya, namun para tetangga menghormatinya. Itu karena kepribadiannya yang berwi-bawa dan kepeduliannya terhadap masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Dia menjadi tempat untuk mene-mukan solusi atas berbagai permasalahan para tetangganya.

Antara Zaid dan Amru, masing-masing memiliki ke-lebihan yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai ridha Allah swt., juga mempunyai kelemahan yang membuka peluang bagi iblis untuk mencelakainya. Kelebihan Zaid adalah, dia memiliki harta yang banyak, sehingga dia bisa melaksana-kan ibadah haji sebanyak yang dia mau, berzakat dan me-nyantuni banyak orang miskin dan dhuafa', membangun masjid sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak pernah terputus, serta banyak lagi ibadah finansial (ibadah maaliyah) lain yang bisa dia lakukan.



Alangkah beruntungnya orang kaya yang bisa memanfaat-kan kekayaannya untuk memenuhi perintah-perintah Allah. Kekayaan adalah anugerah penting yang Allah berikan. Pemiliknya memiliki peluang sangat besar untuk meng-gapai ridha Allah swt. Tidak seperti keadaan tujuh orang dari bani Auf yang datang kepada Rasulullah saw. Mereka sangat ingin untuk ikut berjihad bersama Rasulullah saw. pada Perang Uhud. Akan tetapi, karena kemiskinan mereka dan Rasulullah juga tidak mempunyai apa-apa untuk mem-bantu, Mereka akhirnya tidak bisa mewujudkan keinginan mulia itu dan pulang kembali dengan kesedihan yang ber-tumpuk dan air mata bercucuran. Allah mengabadikan kisah mereka dalam firman-Nya,

"Tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepada-mu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (at-Taubah [9]: 92)

Seandainya mereka memiliki kendaraan dan kemampuan untuk membeli kuda tunggangan untuk berjihad, mereka pasti tidak akan sesedih itu. Seandainya mereka memiliki kelebihan rezeki, mereka pasti menjadi kekuatan pasukan yang berdiri di barisan paling depan pasukan kaum muslimin. Itu adalah model kekayaan yang menjadi penopang kekuatan iman.

Di samping itu, kekayaan juga bisa menjadi celah kele-mahan yang dimanfaatkan oleh iblis untuk mencelakai pe-miliknya. Kekayaan membuatnya sombong dan tinggi hati, sehingga dia lalai dari menjalankan perintah-perintah Allah swt. Itu adalah jenis kekayaan yang membawa petaka. Contoh-nya adalah Qarun.

"Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepada-nya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, 'janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orangyang terlalu membanggakan diri.'" (al-Qashash [28]: 76)

"Qarun berkata, 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.' Apakah dia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (al-Qashash [28]: 78)

Simaklah ayat itu, perkataan Qarun "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu'yang ada padaku." Bandingkan ungkapan itu dengan perkataan iblis ketika me-nolak untuk tunduk kepada Nabi Adam a.s., "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Kedua kalimat itu berasal dari karakter yang sama, yaitu tinggi hati.

Qarun merasa bahwa ilmunya adalah faktor terpenting yang membuatnya menjadi kaya. Dia tidak mengakui bahwa ilmu itu berasal dari Allah dan hartanya juga berasal dari Allah. Sementara iblis menganggap bahwa dirinya lebih mulia sehingga tidak mengakui keunggulan dan kelebihan Nabi Adam a.s. atas dirinya.

Sama seperti kesombongan iblis, jika kesombongan Qarun hanya dimilikinya sendiri, mungkin yang akan celaka hanya dia seorang. Akan tetapi, banyak orang lain yang menjadi kufur nikmat karena tingkah lakunya. Allah menjelaskan itu dalam firman-Nya,

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.'" (al-Qashash [28]: 79)

Kesombongan yang ada dalam diri Qarun menularkan virus iri hati dan kufur nikmat kepada orang-orang yang melihatnya, kecuali orang-orang cerdas yang beriman. Mereka tidak bisa dijangkiti virus yang ditimbulkan oleh sifat sombong Qarun.

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pahala itu tidak akan dimiliki, kecuali oleh orang-orang yang sabar.'" (al-Qashash [28]: 80)

Meski hidupnya bergelimang harta dan kekayaan, dia tidak akan membawa pergi harta itu ke akhirat. Akhir kehidupan orang yang sombong selalu tidak baik. Kehidupan mereka akan berakhir dengan kehancuran dan kematian yang tragis. Begitulah nasib Qarun,

"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya) Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata, Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempit-kannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).'" (al-Qashash [28] : 81-82)

Allah mendidik manusia, meski tidak secara langsung. Dia sengaja memberi manusia akal dengan kemampuan berpikir dan hati dengan perasaan (emosi) untuk menimbang antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Kisah Qarun adalah pelajaran bagi manusia agar mereka rendah hati dengan kekayaan yang telah Allah anugerahkan.

Kekayaan bukan satu-satunya fasilitas hidup yang bisa membuat manusia menjadi sombong. Jabatan dan kekuasa-an juga bisa membuatnya sombong, seperti kesombongan Fir'aun dengan kekuasaannya hingga ia mengaku diri sebagai tuhan. Allah swt. berfirman,

"(Juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu)." (al-'Ankabuut [29]: 39)

Orang miskin yang rendah hati, itu hal yang biasa, tetapi hartawan dan pejabat yang rendah hati, itu luar biasa. Keadaan itu menandakan ketundukan dan ketaatan kepada Allah swt. Rendah hati tidak berarti lemah dan rendah. Justru rendah hati adalah kualitas jiwa yang menyimpan kekuatan besar, karena dia hanya tunduk kepada yang Mahakuasa dan Mahaperkasa, yaitu Allah swt.

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang lebih tinggi derajat-nya merasa dihargai dan membuat orang yang lebih rendah derajatnya tidak merasa minder.
Share:

Mata Air 4 : Cobalah Anda Akan Mengetahui !


"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash[28]:77)

Hidup seseorang yang paling bahagia di dunia, pastilah belum seberapa dibandingkan kebahagiaan yang Allah sediakan bagi orang-orang beriman di akhirat nanti. Sekaya-kayanya orang terkaya di dunia saat ini, belum seberapa di­bandingkan kekayaan sahabat Rasulullah saw., Abdurrahman bin Auf, karena dia memiliki kekayaan dunia yang me-limpah sehingga dia bisa "membeli" satu tiket ke surga dengan sifat kedermawanan dan keikhlasannya berjihad dengan harta dan jiwanya. Secantik-cantiknya wanita tercantik di dunia, hanya setitik dari kecantikan bidadari-bidadari surga.

Apa pun bayangan yang tebersit dalam benak Anda ketika membaca ilustrasi di atas, belum apa-apa jika dibandingkan dengan hakikat akhirat yang sebenarnya. Itulah kebaha­giaan sejati dan yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap orang. Akhirat adalah segalanya. Ia merupakan tujuan utama yang harus didahulukan daripada semua ke-perluan dan kebutuhan duniawi.

Cobalah Anda cermati lebih teliti tentang ayat di atas, "Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat..." Betapa indah Allah menggam-barkan kebahagiaan akhirat itu, seolah-olah dia adalah se-suatu yang pasti bisa dimiliki oleh setiap orang. Meski hakikat kebahagiaan yang sebenarnya tidak terjangkau oleh imajinasi manusia, Allah tetap memerintahkan untuk dijadikan prioritas. Dia juga mengingatkan bahwa kita memiliki jatah kebahagia­an duniawi yang tidak boleh dilupakan, "...dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi."

Di dalam teks Arabnya, ayat tersebut terdiri dari empat kalimat. Setiap kalimat didahului dengan huruf "waw." Fungsi huruf "Waw" dalam tata bahasa Arab (Nahwu) biasanya sebagai penghubung antar kalimat, sehingga biasa diistilahkan dengan wawul 'athf (waw penghubung) yang menandakan bahwa kalimat-kalimat itu memiliki hubungan satu sama lain.

Dengan demikian, pengertiannya adalah kebahagiaan akhirat dapat diraih dengan tidak melupakan jatah nikmat kebahagiaan duniawi. Kebahagiaan duniawi tidak dapat diraih, kecuali dengan bersikap baik, bertutur kata yang lembut dan santun terhadap sesama manusia, serta menjauh-kan diri dari perbuatan yang dapat membawa kerusakan bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Karena itu, kesuksesan sebenarnya telah ditakdirkan untuk setiap orang, tetapi kebanyakan orang hanya menunggu takdir itu, padahal ia tidak akan datang sendiri. Takdir itu harus dijemput dan dicari. Itulah salah satu hikmah mengapa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, karena kesempurnaan itu diperlukan guna men-cari dan menjemput takdir kesuksesan dan kebahagiaan yang Allah tetapkan untuk mereka. Sangat tidak wajar bila makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna justru tenggelam dalam kesengsaraan, sedih, frustrasi dan kecewa.

Orang yang tidak bisa menjalani hidup dalam kebahagia­an dan kesuksesan adalah mereka yang tidak bisa meman-faatkan kesempurnaan dirinya. Allah menganugerahi setiap orang kemampuan dan kelebihan yang berbeda dari yang lain. Ketika seseorang mengetahui anugerah terbesar itu, maka dia telah menemukan modal terbesar yang dia perlukan untuk meraih sukses dan kebahagiaan hidup.

Sebuah pepatah Arab mengatakan,

"Engkau mengharapkan kesuksesan

Tetapi engkau tidak menempuh jalan kesuksesan

Sungguh, kapal laut tidak akan berlayar di daratan"



Ada dua hal yang harus Anda percayai untuk memulai perjalanan menuju kesuksesan. Pertama, percayalah bahwa Allah menganugerahkan sesuatu yang berbeda dalam diri Anda yang tidak Dia berikan kepada orang lain, hanya diberikan kepada Anda seorang. Kedua, percayalah bahwa apa pun kemampuan yang Anda miliki dari keterampilan, hobi, kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, dan sebagainya, salah satu dari semua itu adalah jalan Anda untuk meraih ke-suksesan dan kebahagiaan hidup.

Banyak orang yang memiliki gagasan hebat tetapi takut untuk mencoba dan memulai mengambil tindakan untuk mewujudkan gagasannya menjadi suatu karya nyata. Pikirannya tertutupi oleh beratnya usaha mewujudkan gagasan itu, lamanya jangka waktu yang diperlukan, beratnya risiko yang akan ditanggung bila ia gagal di tengah jalan, rumitnya prosedur dan setumpuk hal-hal negatif menutupi pandangannya dan membuntukan pikirannya. Padahal, segala sesuatu akan terasa berat dan rumit bila hanya sebatas dipikirkan. Ketika isi pikiran itu diterapkan dan dikerjakan untuk men­jadi sebuah karya nyata, ia justru menjadi sesuatu yang mudah dan ringan.

Lihatlah contoh bagaimana seorang arsitektur menggambar rancangan bangunan sebuah gedung pencakar langit. Dia harus merancang bentuk bangunannya agar kokoh dan memiliki nilai seni tinggi, daya tahan terhadap gempa, menghitung kedalaman fondasi, menentukan tebal tembok, jenis semen dan besi yang akan dipakai, dan lain sebagainya. Tahap penyusunan konsep suatu bangunan jauh lebih sulit dan lebih rumit daripada tahap pembangunannya. Akan tetapi, bila si arsitektur hanya terus memikirkan masalah konsep arsitekturnya, maka bangunan yang direncanakan itu pun tidak akan pernah berdiri.

Seseorang yang pikirannya dipenuhi banyak gagasan dan rencana cerdas tetapi tidak pernah mencoba merealisasi-kannya menjadi sebuah karya nyata, maka dia adalah orang yang tidak berguna.

Bila Anda pergi ke toko-toko komputer atau melihat iklan komputer di koran-koran, Anda akan.temukan tulisan "Dell". Itu adalah salah satu merek komputer terkenal di dunia. Pemilik merek ini adalah Michael Dell. Pada usia 12 tahun, dia memiliki hobi filateli. Dia melihat para penjual prangko memiliki banyak uang dari hasil penjualan prangko mereka. Dia pun membuat katalog yang berisi koleksi prangko milik-nya kemudian menjualnya melalui kantor-kantor pos. Dari sana dia mendapat keuntungan US$ 2.000. Waktu itu usianya baru 12 tahun.

Pada usia 15 tahun, dia meminta kepada orang tuanya untuk memberinya komputer sebagai hadiah ulang tahun. Setelah mendapatkan komputer, dia pun membongkarnya menjadi komponen-komponen kecil untuk dipelajari cara kerjanya. Setelah besar, dia pun mendirikan salah satu per-usahaan pembuat komponen komputer terbesar.

Kesuksesan Dell mendirikan sebuah perusahaan pembuat komponen komputer berbeda dengan Henry Ford yang sukses mendirikan perusahaan otomotif "Ford". Juga ber­beda dengan kesuksesan Conrad Nicholson Hilton di bisnis perhotelan. Berbeda pula dengan kesuksesan Aa Gym mem-bangun kolaborasi cantik antara dakwah dengan bisnis.

Setiap orang memiliki kemampuan dan takdir untuk sukses di bidangnya masing-masing. Allah menyediakan bagi setiap orang jalannya masing-masing menuju sukses. Dia tidak pilih kasih dalam membagi-bagikan nikmat kesuksesan. Dia menganugerahkan kesuksesan bagi setiap orang yang mau mencoba dan berusaha, baik dia beriman maupun kafir.

"Barangsiapa yang melakukan perbuatan baik maka (hasilnya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (hasilnya juga) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu meng-aniaya hamba-hamba (Nya)." (Fushshilat [41]: 46)

Jika orang-orang yang tidak menyembah Allah diberi nikmat kesuksesan dan kekayaan, tentu Allah akan lebih berbahagia untuk memberikan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersyukur.

Dalam hal rezeki dan kekayaan, Allah tidak pilih kasih. Dia memberikannya kepada mereka yang mau berusaha dan berani mencoba. Seseorang hanya perlu mengembang­kan tiga kemampuan pokok di dalam dirinya sebagai modal utama mencari rezeki: pertama, keyakinan pada janji dan jaminan Allah bahwa rezeki telah "disediakan", maka dia harus "menjemputnya" sendiri. Kedua, kegigihan untuk men-jaga dan mengikhlaskan niat dan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang tepercaya (cakap).

Ketiga hal itu diperlukan untuk membangun keberanian diri dalam proses membangun kesuksesan, karena kesukses-an ibarat ukiran yang Anda buat di atas "batu" kehidupan. Anda harus mencoba mengukirnya dengan "pahat" kesabar-an dan "palu" ketekunan. Sekali Anda memukulnya, akan terbentuk satu goresan kecil di permukaan batu itu. Anda harus memukulnya ribuan bahkan jutaan kali sehingga ukiran kesuksesan itu bisa selesai dengan sempurna dan indah.

Pilihlah "batu" kehidupan yang keras dan lebih besar tantangannya agar ukiran kesuksesan yang Anda buat bisa tahan lama serta dapat dilihat dan dinikmati oleh generasi-generasi sesudah Anda. Hadapilah setiap tantangan dan ber-pikir positiflah, temukan solusi. Jangan melipatgandakan satu kesulitan menjadi seribu keputusasaan, satu musibah menjadi seribu penderitaan, satu kegagalan menjadi seribu penyesalan. Berkreasilah dan jangan pernah takut untuk men­coba sesuatu yang baru. Selama Anda beriman dan yakin dengan janji Allah, Anda akan temukan bahwa Allah menepati janji-Nya.

Sebagai penutup bab ini, akan saya uraikan perumpama-an dan pelajaran dari dialog antara seorang pembuat jam dengan jam yang sedang dibuatnya. Pembuat jam itu ber-kata, "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.536.000 (Tiga puluh satu juta lima ratus tiga puluh enam ribu) kali selama setahun?," "Ha?" kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya berdetak sebanyak itu?"

"Bagaimana kalau 86.400 (Delapan puluh enam ribu empat ratus) kali dalam sehari?"

"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang kecil-kecil begird?" jam itu bertutur penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3.600 (tiga ribu enam ratus) kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam aku harus berdetak tiga ribu enam ratus kali? Itu jumlah yang besar dan berat bagiku" jam itu masih ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran berbicara kepada si jam, "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu pun berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa, karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Itu berarti dia telah berdetak sebanyak 31.536.000 (tiga puluh satu juta lima ratus tiga puluh enam ribu) kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas dan pekerjaan yang pada awalnya terasa begitu berat. Namun sebenarnya, kalau kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak bisa kita lakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Banyak gagasan dan pekerjaan besar yang akan terasa berat bila dimulai dari yang berat dan besar. Maka cobalah untuk memulainya dari hal-hal kecil dan ringan. Kesuksesan besar ibarat sebuah gurun pasir yang besar dan luas. Ia tidak lain hanyalah kumpulan dari setitik pasir kecil dalam jumlah yang sangat banyak.

Jika Anda telah sukses pada satu bidang, maka pertahan-kan kesuksesan di bidang itu. Cara terbaik untuk memper-tahankannya adalah dengan membangun sistem dan me­kanisme kerja yang bisa membuat orang lain memiliki komitmen terhadap kesuksesan Anda dan bisa memberi manfaat bagi mereka.

Ada orang yang hanya merasa puas dengan mengukir kesuksesan hidup dari tumpukan uang dan emas, yang lain dengan popularitas, jabatan, dan ilmu pengetahuan. Tetapi, ukiran sejati sebuah kesuksesan adalah manfaat besar yang bisa dinikmati orang lain dari apa yang telah Anda lakukan. Setelah itu, cobalah sesuatu yang baru yang lebih besar nilai dan tantangannya dari yang pernah Anda coba.

Cobalah! Anda akan mengetahui bahwa Anda adalah pribadi yang tangguh. Yakinlah bahwa Allah telah menakdir-kan untuk Anda kesuksesan di bidang pekerjaan yang Anda geluti.
Share:

Popular Posts

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.