Motivasi dari Al Qur'an

  • Bertobatlah

    Dosa dan maksiat tidak hanya akan menghalangi seseorang dari rahmat dan ridha Allah, tetapi juga akan meng-halanginya dari mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkannya.

  • Ambil Resiko Itu

    Setiap perbuatan, baik atau buruk pasti memiliki risiko. Seseorang tidak akan menanggung risiko atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Jika dia berusaha dan bekerja keras untuk kebaikan dan keselamatan dirinya, dia akan menerima risiko atas apa yang dikerjakannya.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Chapter 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chapter 2. Tampilkan semua postingan

Mata Air 7 : Bulatkan Tekad Dan Jaga Komitmen Diri

Justify Full
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga)orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"(Huud[11]:112)

Salah satu kisah peperangan yang paling berat dan meng-harukan dalam sejarah Islam adalah ketika pasukan kaum muslimin mengepung pasukan Persia yang berlindung di dalam benteng kota Tustar yang merupakan salah satu benteng terkokoh dan tersulit yang pernah ditaklukkan. Pasukan muslimin dipimpin oleh Abu Musa al-Asy'ari.

Salah seorang anggota pasukan muslimin yang paling tenar dalam peperangan itu adalah Majza'ah bin Tsaur. Dia adalah seorang yang gesit dan lihai memainkan pedang serta memiliki kemauan kuat dan tekad baja. Selama peperangan itu, dia telah membunuh lebih dari seratus tentara Persia dalam duel satu lawan satu sebelum memulai setiap pertempuran. Namanya menjadi momok menakutkan bagi pasukan Persia. Sebaliknya, dia menjadi kebanggaan dan lambang kebulatan tekad pasukan muslim untuk menaklukkan kota Tustar.

Delapan belas bulan pasukan muslim mengepung benteng itu, namun tidak ada tanda-tanda berkurangnya kekuatan pasukan Persia. Sementara itu, Abu Musa al-Asy'ari hampir kehabisan ide memikirkan strategi untuk menembus benteng musuh. Hingga akhirnya, Allah menunjukinya jalan melalui seorang pembelot dari prajurit Persia yang keluarga dan saudara-saudaranya dibantai secara biadab oleh Hurmuzan (komandan pasukan Persia). Orang itu mengatakan bahwa apabila pasukan muslim ingin menembus benteng Tustar, mereka harus memasukinya dengan berenang melewati kanal dan saluran air kota itu.

Abu Musa al-Asy'ari mengutus Majza'ah bin Tsaur untuk mengikuti orang itu dan mempelajari seluk-beluk kanal air menuju istana Kisra Persia. Setelah itu, Majza'ah kembali, Abu Musa pun segera mempersiapkan tiga ratus orang pasukan elit kaum muslimin yang bisa berenang untuk memasuki kota itu melalui kanal dan saluran air menuju pusat kota di bawah pimpinan Majza'ah bin Tsaur.

Di sinilah kebulatan tekad dan komitmen Majza'ah serta anggota pasukan elit yang dipimpinnya untuk menaklukkan kota itu teruji. Aliran air di kanal itu sangat deras dan mematikan. Mereka harus berjuang selama dua jam lebih untuk bisa melewati kanal berbahaya itu. Terkadang mereka bisa berjalan santai karena arus tidak terlalu berbahaya, tapi terkadang mereka terhempas ke sana ke mari karena derasnya arus air.

Ketika sampai di jalan tembus, Majza'ah baru sadar bahwa 220 orang anggota pasukannya hilang terhempas di kanal. Kini, dia hanya memiliki 80 tentara.

Allah Mahabesar. Dia tidak akan menyia-nyiakan setetes usaha yang hamba-Nya lakukan untuk menegakkan kalimat-Nya. Hanya dengan 80 tentara, mereka akhirnya bisa melum-puhkan pasukan Persia yang siap siaga sepanjang jalan menuju gerbang benteng dan membukanya dengan teriakan takbir yang disambut dengan takbir pula oleh pasukan muslim yang telah siap siaga di luar benteng. Mereka segera merangsek masuk ke dalam benteng dan menumbangkan kekuasaan zalim yang menindas dan merampas hak-hak rakyatnya.

Dalam pertempuran itu, Majza'ah menemukan syahid yang menjadi cita-cita tertingginya di ujung pedang Hurmuzan. Mereka berdua terlibat duel yang seru sehingga keduanya sama-sama saling menebas tubuh lawannya. Seandainya Hurmuzan tidak memakai baju besi dia tentu telah tewas oleh sabetan pedang Majza'ah, sedangkan Majza'ah tidak memakai baju besi.

Majza'ah meninggalkan pelajaran berharga bagi kita, generasi muda Islam abad 21. Dia mengajari kita arti sebuah tekad dan komitmen yang tulus terhadap satu tujuan yang jelas, yaitu menguasai kota Tustar untuk membangun peme-rintahan yang berasaskan pada nilai-nilai langit. Kita pun bertanya, apa yang mendorongnya untuk mau berjuang mem-pertahankan hidup melawan derasnya arus air dalam kanal berbahaya itu? Apa pula yang memperkuat mental bertarung-nya sehingga dia mampu membunuh lebih dari seratus orang pasukan Persia dalam duel satu lawan satu? Apa pula yang membuat tiga ratus orang anggota pasukan elit kaum muslimin itu mau menaatinya? Apa yang membuat mereka rela mempertaruhkan jiwa dan raga dalam setiap pertempuran.

Tekad dan komitmen bukanlah sesuatu yang gampang dimiliki oleh semua orang. Ia lahir dari adanya kejelasan tujuan yang ingin dicapai serta keyakinan diri bahwa tujuan tersebut pasti akan tercapai. Dari mana datangnya keyakinan itu? Keyakinan itu datang dari perasaan dan kepercayaan diri bahwa mereka memiliki "beking" yang Mahakuat dan Mahaperkasa.

Ibaratnya, Anda memiliki orang tua yang kaya dan sangat mendukung setiap langkah dan keputusan yang Anda ambil untuk diri Anda. Anda memiliki tekad kuat untuk melanjut-kan jenjang akademis Anda hingga tingkat magister atau doktor. Anda akan memiliki keyakinan yang lebih, karena bila Anda menghadapi kendala/mansza/, Anda memiliki orang tua yang menjadi "beking" finansial dan siap menyuplai dana untuk Anda.

Tekad yang kuat merupakan salah satu keunikan jiwa manusia yang bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mengubah sesuatu yang mungkin menjadi karya nyata. Namun, sebagaimana telah kami katakan bahwa tekad saja tidak cukup. Harus ada keyakinan dan percaya diri. Kedua hal itu hanya bisa muncul dari adanya tempat kembali, tempat bersandar, "beking" yang memiliki kemampuan dan kekuatan jauh di atas kekuatan dan kemampuan kita. Jika "beking" kita memiliki kemampuan sedikit di atas kita, atau sejajar dengan kita, maka rasa percaya diri dan keyakinan untuk sukses akan sangat sulit muncul dari kondisi yang demikian itu. Justru yang akan muncul adalah rasa ragu dan takut gagal.

Itulah sebabnya, Allah mengajari kita tentang cara memiliki tekad yang baik dalam firman-Nya,
"...Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka ber-tawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali 'Imran [3]: 159)
Kata "tekad" dalam bahasa Arab disebut 'Azam. Setelah kebulatan tekad, harus ada tawakal kepada Allah. Tawakal adalah kepasrahan kepada Allah, karena Dia lebih mengeta-hui sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya. Tawakal yang benar akan menimbulkan keyakinan dan ketenangan jiwa. Jika tujuan yang diinginkan tercapai dengan sukses, itu me-rupakan hal terbaik yang Allah tentukan bagi kita. Namun, jika tujuan yang diinginkan tidak tercapai, hal itu juga me-rupakan hal terbaik yang Allah tentukan, ada kebaikan yang tersembunyi di balik setiap kegagalan dan kesulitan yang kita hadapi. (Bacalah bab, "Apa pun Tantangannya, Hadapi dan Nikmati!" dalam buku ini).

Ada banyak kisah ironis yang kita baca dari lembaran kehidupan sebagian orang. Ada orang yang karena hidup dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, dia rela menghabisi hidupnya sendiri; orang tua yang tega menjual kehormatan anak gadisnya hanya untuk memperoleh uang sepuluh ribu rupiah; bocah kecil yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar gantung diri hanya karena nilai rapor-nya rata-rata merah; artis yang justru pada puncak popularitas-nya malah mencaci maki ibunya sendiri, tanpa sadar bahwa dirinya tumbuh besar dari keringat dan derita ibunya sejak dilahirkan hingga dia mencapai popularitas itu; gadis desa dengan pendidikan pas-pasan yang rela menebar goyangan syahwat hanya agar bisa cepat tenar dan bisa punya banyak uang; ustadz yang menceramahi sejuta manusia tetapi lupa mendidik anak dan keluarganya sendiri dengan nilai-nilai yang "dijual" dalam ceramahnya; motivator kelas dunia yang terkenal dengan karya-karya tulis yang luar biasa menggugah serta mengajari manusia cara mencari kebahagiaan sejati, tetapi dirinya sendiri tidak bisa menemukan kebahagiaan itu hingga dia berputus asa dan mengakhiri hidup dengan menggorok lehernya sendiri.

Alangkah tragisnya kehidupan mereka. Sebelum merasa-kan siksaan yang abadi di akhirat, di dunia mereka sudah tersiksa oleh kehidupan yang mereka jalani. Sebagian ber-putus asa karena kesulitan, sebagian lagi justru merasakan puncak kesengsaraan hidupnya adalah ketika meraih sukses di bidang yang digelutinya. Lalu apa sebenarnya yang dicari?

"...Sesungguhnya, neraka itu adalah apiyang bergejolak, yang menge-lupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya." (al-Ma'arij [70]: 15-18)

Neraka di akhirat adalah api yang bisa berbicara dan me¬manggil orang-orang yang berpaling dari nilai-nilai agama. Mengeksploitasi dosa dan maksiat hanya untuk meraih popularitas sehingga memiliki peluang untuk mengumpul¬kan harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Anak Saya Lemah Fisiknya

Namanya Pak Yalid. Dia wali salah seorang santri saya. Dia menceritakan kepada saya tentang anaknya yang ber-nama Yasser. Dia berkata bahwa anaknya itu cukup cerdas, tetapi secara fisik dia lemah.

Pada suatu hari, salah seorang siswa kelas III Aliyah yang di dalam organisasi siswa bertugas mengurus bidang minat dan bakat siswa datang menghadap saya. Dia menyampai-kan bahwa para santri meminta untuk didirikan perguruan seni beladiri yang dilatih langsung oleh guru mereka sendiri. Sebelumnya telah ada perguruan seni yang masuk ke pesantren itu, tetapi tidak terlalu efektif karena pelatihnya berasal dari luar pesantren.

Saya pun menyetujui permintaan itu dan menyuruhnya mendata, berapa orang yang berminat untuk mengikuti latihan beladiri yang rutin akan diadakan dua kali seminggu.

Hasil pendataan itu sangat mengejutkan. Dari sekitar 120 orang santri, hanya 15 orang yang tidak berminat mengikuti latihan beladiri. Hasil itu membuat saya termotivasi untuk melatih mereka dengan serius.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah pada saat per-kumpulan pertama para peserta latihan beladiri itu, saya mendapati Yasser termasuk salah satu dari para santri yang berminat mengikuti latihan beladiri itu. Padahal, orang tuanya pernah mengatakan kepada saya bahwa dia anak yang lemah fisiknya.

Minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Pada akhir tahun, dari 105 orang yang mendaftar pada awal pem-bukaan latihan beladiri itu, hanya tersisa sekitar 10 orang, salah satunya adalah Yasser.

Dari pemantauan selama melatih, saya mengetahui bahwa Yasser memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk me-nguasai seni beladiri. Fisiknya memang tampak lemah, tetapi karena tekad dan kemauan kerasnya, dia menjadi seorang yang cekatan dalam mengatur strategi bertahan dan melaku-kan serangan balik yang cepat. Hingga akhirnya, dia menjadi salah seorang jawara dalam perlombaan seni beladiri antar pelajar di wilayah itu.

Apa yang Membuatnya Berubah?

Tidak ada siapa pun yang mengubah Yasser selain dirinya sendiri. Saya mengetahui dia sangat rajin berlatih dan meng-olah gerakannya.

Pada suatu malam, saya berkeliling untuk memantau situasi keamanan pondok pada malam hari. Dari jauh saya melihat bayangan seseorang sedang berlatih beladiri sen-dirian. Saya mengetahui gerakan itu adalah yang baru saya berikan kepada siswa saya tadi sore.

Setelah mendekat, saya pun mengenalinya, dia adalah Yasser. Ketika mendapat tugas jaga malam, yaitu meronda untuk keamanan pondok, waktu meronda itu dia gunakan untuk berlatih. Dia memiliki kemauan yang kuat dan tekad baja untuk bisa menguasai seni beladiri. Dan sebagai se¬orang laki-laki, adalah menjadi sesuatu yang sangat penting baginya untuk memiliki keahlian itu.

Pada suatu hari, saya bertemu dengan Pak Yalid, orang tua Yasser. Dia berkata kepada saya, "Saya heran dengan anak saya, dulu fisiknya lemah, tapi sekarang dia sudah berubah."
Saya pun menjawab, "Yang tidak bisa diubah adalah takdir yang sudah terjadi, sementara takdir yang belum terjadi adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan tekad dan komitmen yang kuat..."

Fa'idzaa 'azamta fa Tawakkal 'alallaah... (Jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah...)
Share:

Mata Air 6 : Apapun Kesulitannya Hadapi dan Nikmati !



"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan 'Kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi" (al-Ankabuut [29]2)

Tantangan akan membuat Anda semakin pandai, tabah dan kompeten ketika Anda semakin menikmati masalah-masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan Anda terus menaklukkan tantangan tersebut, Anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan-tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda akan tertarik untuk mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!

Sebagai pembuka bab ini, saya akan ceritakan kepada Anda tentang kisah para nelayan Jepang.
Orang Jepang, sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi, persediaan ikan di perairan mereka selama beberapa dekade ini tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan mereka.

Jadi, untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari ukuran sebelum-nya. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan-ikan hasil tangkapan mereka sudah tidak segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan langsung memasukka nya ke dalam freezer untuk dibekukan. Adanya freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dalam waktu yang lama.

Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah, sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga ikan-ikan itu berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan itu berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat me-rasakan perbedaannya. Karena ikan-ikan itu tidak bergerak selama berhari-hari, maka rasa ikan segarnya menjadi hilang. Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.Bagaimanakah perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini? Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar alami ke Jepang?

Jika Anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang akan Anda rekomendasikan?
Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, per¬usahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini, mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam setiap tangki.

Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyak-an ikan akan sampai ke daratan dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang untuk mempertahan-kan hidup dan terus bergerak menghindar agar tidak ter-mangsa oleh ikan hiu kecil itu.

Kesuksesan para nelayan Jepang menghadirkan ikan segar kepada para konsumen adalah karena kegigihan dan ke-beranian mereka mencari dan mencoba macam-macam solusi untuk mengatasi tantangan yang timbul karena selera kon-sumen. Sementara ikan-ikan itu tetap terpelihara kesegaran-nya juga karena adanya tantangan.

Secara umum, kehidupan tidak akan pernah lepas dari tantangan dan kesulitan. Ujian dan tantangan akan datang silih berganti. Tetapi, di balik setiap ujian dan tantangan ter-sembunyi kesuksesan dan kebahagiaan yang besar.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) me-ngatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi?" (al-Ankabuut [29]: 2)

Menjalani hidup tidak sekadar apa adanya, hidup memiliki tujuan. Allah tidak menciptakan semua makhluk yang ada di muka bumi dengan sia-sia atau hanya sekadar hidup dan menikmati segala fasilitas duniawi yang Allah sediakan. Akan tetapi, kehidupan setiap manusia adalah sebuah per-jalanan menuju satu tujuan mulia.

Tujuan yang ingin dicapai setiap orang sudah jelas, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena tujuan itulah, Allah menyediakan berbagai macam kenikmatan, seperti umur panjang, harta benda dan kekayaan, anak dan istri yang setia menemani, dan lain sebagainya sebagai fasilitas untuk men-capai tujuan itu.

Namun, untuk mencapai tujuan itu tidak semudah mem-balikkan telapak tangan. Lihatlah bagaimana orang-orang besar yang memiliki nama besar seperti Rasulullah saw. dengan misi dakwahnya yang mulia.

Rintangan dan ujian apakah yang belum beliau rasakan dalam mengemban misi dakwah itu? Dilempari dengan kotoran unta, diludahi, dilempar dengan batu hingga kepala dan kakinya berdarah. Pengikut dan para sahabatnya diteror dan dibunuh, dikepung dan diboikot sehingga dia dan keluarga dilanda kelaparan dan hanya bisa makan dedaunan. Dikhianati oleh kabilah-kabilah Yahudi Madinah yang telah menan-datangani perjanjian damai dengan umat Islam, serta ujian dan cobaan lain yang belum pernah dialami oleh siapa pun sebelum dan sesudahnya.

Di samping cobaan yang pahit, beliau juga memperoleh ujian dan cobaan-cobaan manis.Beliau pernah ditawari kekuasaan, kekayaan, wanita ter-cantik di tanah Arab dan popularitas di tengah suku Quraisy, dengan syarat beliau harus meninggalkan misi dakwahnya. Kewibawaan dan jiwa kepemimpinan beliau membuatnya dihormati dan ditaati oleh seluruh penduduk Madinah. Apabila beliau meminta mereka mendirikan untuknya sebuah rumah mewah di tengah kota Madinah, mereka pasti akan men-dirikannya. Apalagi setelah Islam tersebar di seluruh tanah Arab. Akan tetapi, beliau lebih memilih untuk menginap sementara di rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Puluhan kali beliau memimpin peperangan hanya pada dua peperangan beliau mengalami kekalahan yang tidak terlalu parah. Harta pampasan perang yang banyak sangat cukup baginya untuk membangun rumah mewah dan meng-isinya dengan perabotan-perabotan yang sangat mahal. Akan tetapi, rumah beliau sangat kecil dan sempit, kasurnya tipis dan berbantalkan lengan beliau sendiri.Lihatlah betapa konsistennya beliau dengan misi dakwah-nya. Kondisi kehidupan yang penuh tantangan beliau lalui dengan penuh rasa syukur dan beliau menikmatinya.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (al-Anbiyaa' [21]: 35)

Betapa indahnya Allah menciptakan kehidupan dengan segala problematikanya. Betapa cintanya Allah kepada manusia sehingga Dia tidak memanjakan mereka dengan sekadar menikmati fasilitas kehidupan itu saja. Allah memberikan kebebasan kepada manusia, apakah dia ingin menjadi orang yang bahagia atau menjadi orang yang sengsara. Untuk dua tujuan itulah, Dia menguji mereka dan memberi banyak tantangan agar mereka menjadi kuat dan tegar.

Ada seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Dia memiliki orang tua yang saleh. Kedua orang tuanya mendidik dia untuk selalu tawakal dan hanya berharap kepada Allah. Karena kekuatan pendidikan orang tuanya itulah, pada setiap shalat dia selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, berilah aku rezeki yang banyak. Berilah aku kekuatan untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik." Begitulah isi doanya setiap usai melaksanakan shalat fardhu.

Ibunya hanya seorang pedagang pisang goreng, sedang-kan ayahnya seorang petani miskin. Pagi hari dia berangkat sekolah, di samping membawa buku-buku pelajaran, dia juga membawa rantang yang berisi pisang goreng buatan ibunya untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah. Sepulang sekolah dia pergi ke sawah untuk membantu ayahnya di sawah. Itu adalah aktivitas rutinnya sehari-hari. Pada hari Ahad, sehari penuh dia habiskan waktunya untuk menjual pisang goreng buatan ibunya.

Selama dua puluh tahun dia tetap dengan doanya itu. Dalam hati dia tidak pernah berputus asa dan tidak pernah mem-bayangkan bahwa Allah tidak mengabulkan doanya. Selama dua puluh tahun itu pula dia menjalani hidup dengan bekerja keras dan menabung dari keuntungannya.

Setiap hari dia bisa menabung paling sedikit Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) dari laba bersih penjualan pisang goreng ibunya setelah dikurangi biaya makan dan kebutuhan harian mereka sekeluarga. Setelah dua puluh tahun, dia sudah me-miliki tabungan sebesar empat belas juta lebih.

Dengan dana tabungan itu, dia pun membuka usaha rumah makan dan mempekerjakan beberapa orang karyawan se-hingga usaha rumah makannya berkembang pesat dan mem-perluas area pemasarannya dengan membuka cabang di beberapa kota besar.

Setelah meraih semua kesuksesan itu, doanya pun berubah. Dia berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku untuk tetap ingat kepada-Mu dan mensyukuri semua nikmat-Mu serta melaksanakan ibadah dengan baik kepada-Mu, dengan rahmat dan karunia-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

Pelajaran apa yang Anda ambil dari kisah itu?

Anak seorang petani miskin yang suka berdoa "Ya Allah, berilah aku rezeki yang banyak. Berilah aku kekuatan untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik."

Apakah Allah mengabulkan doanya? Berapa lama doa itu baru terkabulkan? Apakah Allah memberinya modal uang tunai sebesar empat belas juta lebih untuk membuka usaha rumah makan?

Jangan pernah menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya. Jika tantangan yang Anda hadapi terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan tidak boleh membuat Anda lelah. Sebaliknya, atur kembali strategi Anda. Temukanlah lebih banyak lagi keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.

Jika Anda telah mencapai tujuan Anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga Anda terpenuhi, berpindahlah kepada tujuan ke-lompok Anda, masyarakat, bahkan umat. Malaikat akan men-catat setiap kebaikan Anda yang membuat orang lain merasa bahagia dan tertolong. Sehingga kesuksesan Anda pun menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya meski Anda telah meninggal.

Jangan menciptakan kesuksesan kemudian Anda tidur nyenyak di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk menciptakan kemajuan. Ingatlah bahwa Allah menyembunyikan nikmat-Nya yang luar biasa di balik setiap kesulitan dan tantangan. Sementara setan mengalihkan perhatian Anda dari kenikmatan itu dengan menimbulkan rasa khawatir, waswas, takut gagal, minder, dan tergesa-gesa dalam diri Anda.

Jika Allah menginginkan seorang hamba menjadi orang yang kuat, Dia akan mengujinya dengan ujian dan tantangan kesulitan yang berat. Kemampuannya mengatasi tantangan itulah yang akan menjadikannya kuat. Akan tetapi, kebanyak-an manusia hanya menginginkan yang enak-enak saja, ketika mereka ditimpa sedikit kesulitan mereka mengeluh. Padahal, tidak semua yang enak akan mendatangkan kebahagiaan, seperti halnya tidak semua kesulitan akan membawa keseng-saraan.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah [2]: 216)

Tantangan dan kesulitan tidak selamanya buruk. Ia melatih kita untuk menjadi kuat dan tangguh. Ia mengasah pikiran kita untuk selalu mencari solusi dan cara untuk mengatasi-nya.

Ketika batu itu menyentuh permukaannya, ia mem-bentuk lubang kecil di permukaan air sesuai ukuran batunya. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, permukaan air akan kembali datar seperti semula. Batu tidak meninggalkan bekas sedikit pun terhadap bentuk permukaan air. Justru masuknya batu ke dalam air akan menambah tinggi permukaannya.

Lihatlah layang-layang, jika dia tidak menantang angin, dia tidak akan bisa terbang melayang di udara. Dia akan tetap melayang di udara selama masih menantang angin. Jika angin yang menerpanya lebih keras dia bergerak meng-goyang ke kanan atau ke kiri kemudian naik ke atas. Sesekali dia akan berputar ke bawah membentuk lingkaran kemudian kembali naik menanjak ke atas.

Tantangan dan kesulitan yang dihadapi seseorang adalah latihan yang akan memberinya kekuatan dan pengalaman. Seseorang yang tidak pernah menghadapi kesulitan atau tantangan, dia tidak akan pernah mengalami kemajuan.

Allah swt. menjanjikan kebahagiaan bagi hamba-Nya yang beriman di dunia dan akhirat. Akan tetapi, Allah mem-beri syarat untuk meraihnya yaitu mujahadah (usaha). Allah tidak memberikan kebahagiaan secara "gratis". Dia hanya memberikannya kepada mereka yang "lulus ujian".

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orangyang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (at-Taubah [9]: 16)

Adapun syarat yang Allah tetapkan adalah berjihad dengan harta dan jiwa; menjadikan Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman sebagai teman sejati. Dengan dua syarat itulah, Anda akan bisa meraih kebahagiaan yang tak terbatas di dunia dan akhirat.

Pada prinsipnya, apa yang Allah sediakan di akhirat me-miliki perbedaan yang lebih dari apa yang Allah berikan di dunia. Bagi mereka yang meraih kebahagiaan dan kesukses¬an di dunia dalam ketaatan kepada Allah, Allah menyedia-kan nikmat yang lebih membahagiakan di akhirat nanti.

Begitu pun sebaliknya, mereka yang hidup sengsara dalam ketidaktaatan kepada Allah, mereka akan memperoleh siksa yang jauh lebih menyengsarakan dari kesengsaraan yang telah mereka derita di dunia.

Akhirat adalah masa depan, setiap orang pasti mengingin¬kan masa depan yang lebih baik dan lebih membahagiakan dari masa sekarang. Hanya orang-orang yang melakukan amal perbuatan yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya (bermujahadah) saja yang dapat memperoleh kemajuan di masa depan, baik dunia maupun akhirat.

Adapun orang-orang yang merasakan kebahagiaan di dunia, tetapi di akhirat mereka hidup sengsara dan tersiksa. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kemunduran dan ke-rugian. Kebahagiaan yang mereka raih di dunia hanya fata-morgana, karena tidak membawa kebahagiaan bagi mereka di akhirat. Kebahagiaan dunia yang sejati adalah bila ke-bahagiaan itu memberikan manfaat kebahagiaan yang lebih baik di akhirat nanti.

Modal yang diperlukan untuk memulai suatu kemajuan adalah kemauan, keberanian dan pengetahuan. Sedangkan kekuatan untuk mempertahankannya adalah kejujuran, komitmen, inovasi dan kesabaran.

Tantangan dan kesulitan bukan untuk ditakuti atau di-hindari, tapi harus dihadapi. Tantangan terkadang merupa-kan sesuatu yang bisa dinikmati, sehingga ada sebagian orang yang berpikiran maju menciptakan tantangan untuk dirinya sendiri. Tantangan itu membuat mereka menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif, karena tantangan merupa-kan stimulus yang memancing kreativitas berpikir dan ke-mampuan menemukan solusi.
Share:

Mata Air 5: Jangan Remehkan Kebaikan Kecil


"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi sesorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar."(An-Nisaa' [4]:40)

Buku ini terbentuk dari ribuan kalimat. Setiap kalimat terbentuk dari beberapa kata, dan setiap kata terbentuk dari kumpulan huruf-huruf sehingga membentuk makna. Segala sesuatu yang kita anggap benda besar adalah susunan dari puluhan, ratusan, jutaan, miliaran, atau triliunan benda-benda kecil.

Dalam hal ibadah, terdapat banyak amalan-amalan kecil dan ringan serta mudah dikerjakan, tetapi ia memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah swt., seperti membaca surah al-Ikhlash yang merupakan salah satu surah terpendek di dalam Al-Qur'an. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali baca-nya tidak lebih dari sepuluh detik. Akan tetapi, Rasulullah saw. mengatakan bahwa pahala sekali membaca surah al-Ikhlash sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.

Contoh lain adalah, mengucap salam "Assalaamu 'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh." Jika kita ingin melakukan sebanyak tiga puluh kebaikan, tentu hal itu akan meng-habiskan cukup banyak waktu kita. Akan tetapi, hanya dengan mengucapkan salam itu secara sempurna kepada sesama muslim, Anda telah memperoleh pahala yang sebanding dengan pahala tiga puluh kebaikan.

Masih banyak lagi jenis kebaikan kecil yang mengandung manfaat dan pahala yang sangat besar bagi orang yang me-lakukannya, dan Allah tidak akan pernah menzalimi seorang hamba yang melakukan kebaikan meski sekecil biji sawi sekalipun.



Balasan dari setiap kebaikan yang dilakukan ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan. Semua berlaku atas kehendak Allah swt.

Banyak sahabat yang memperoleh balasan kebaikan mereka di dunia dan di akhirat. Contohnya adalah Abdurrahman bin 'Auf. Setelah dia hijrah bersama Rasulullah saw. ke Madinah, dia tidak memiliki dan tidak membawa apa-apa sebagai bekal hidup. Akan tetapi, keimanan yang mendalam kepada Allah dan kecintaan yang tiada tara kepada Rasulullah saw. telah menganugerahinya kecerdasan finansial yang belum ada tandingannya, sehingga dia menjadi konglomerat yang paling banyak bersedekah dan berjihad di jalan Allah. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah dia menjadi salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah swt.

Allah berkehendak membalas kebaikan setiap hamba-Nya yang melakukan kebaikan, besar maupun kecil, dengan ganjaran pahala di sisi-Nya dan kebahagiaan di dunia.

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah saya ketika menyusun bab ini. Yaitu kisah dari pengalaman saya ketika mengurus izin pendirian Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) al-Jauhar di Bengkalis, Riau.

Ketika akan pulang, saya memesan tiket kapal lebih awal agar memperoleh tempat duduk dan bisa beristirahat dengan cukup dalam pelayaran ke Dumai. Saya memperlihatkan tiket kepada petugas saat memasuki kapal, kemudian dia meng-antarkan saya ke nomor kursi yang tertera pada tiket itu. Akan tetapi, kursi dengan nomor yang dimaksud telah di-tempati oleh seorang nenek tua. Petugas pun meminta tiketnya, ternyata nenek itu belum mempunyai tiket.

Saya mengamati keadaan di sekeliling, tapi tidak ada lagi kursi kosong. Semuanya sudah ditempati. Perasaan iba ter-hadap nenek itu muncul dalam hati sehingga saya biarkan dia menempati tempat duduk saya. Saya memilih untuk berdiri di antara barisan kursi penumpang lain, padahal per¬jalanan dari Bengkalis ke Dumai cukup lama dan melelahkan. Tidak berapa lama saya berdiri, petugas yang tadi mengantar-kan saya datang dan memberi tahu nenek itu bahwa di salah satu sudut kapal itu masih ada satu kursi yang kosong. Dia kemudian mempersilakan saya menempati kursi itu.

Di sebelah kanan saya, duduk seorang bapak yang me-makai baju putih dan berkopiah. Dia menyapa saya dan ber-tanya, "Mau ke Dumai ya?" Saya mengiyakannya. Dia menanya-kan nama, alamat, dan keperluan saya pergi ke Bengkalis. Dia juga menanyakan status pernikahan saya. Saya men-jawab semua pertanyaannya secara jujur. Tidak lama ke¬mudian kami menjadi akrab dan saling bertukar cerita.

Dia bercerita, "Waktu aku seusia kamu, aku sudah ingin menikah, dan aku sudah menemukan gadis yang menarik hatiku. Tetapi, aku belum tahu banyak tentang keluarga-nya, dan tidak ada satu pun keluarganya yang kukenal."

Dia berhenti sejenak sambil menghela napas panjang. Saya mengamati raut wajahnya yang agak tersenyum. Dia lalu melanjutkan ceritanya, "Ketika aku melihat sikap kamu terhadap nenek tadi, aku jadi ingat kenangan masa laluku."

Saya sangat penasaran mendengar kata-kata itu, saya mendesaknya untuk segera menceritakan kenangannya.

"Suatu hari, aku pergi ke Dumai. Dalam perjalanan pulang, aku mendapatkan tempat duduk di dalam bus yang aku naiki. Ketika sampai di daerah Simpang Bangko,ada seorang nenek yang baru naik. Sementara semua kursi telah terisi.

Akhirnya, nenek itu berdiri dan tidak ada seorang pe-numpang pun yang mengasihi dan mempersilakannya duduk. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku mempersilakan¬nya duduk di kursiku. Dia sangat berterima kasih, lalu menanyakan nama dan daerah asalku, di mana aku turun, dan sebagainya. Dia memberi tahuku bahwa dia akan turun di daerah Bangko Sempurna.

Dalam pikiranku, aku berharap semoga ada penumpang yang turun sebelum daerah itu, sehingga aku bisa men-dapatkan tempat duduk. Akan tetapi, justru lebih banyak penumpang yang naik daripada yang turun.

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya nenek itu sampai ke tempat tujuannya di daerah Bangko Sempurna. Sementara aku sudah kelelahan karena berdiri selama dua jam di dalam bus yang penuh sesak itu. Nenek itu menyentuh pundakku sambil mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga aku selamat.

Aku pun duduk kembali dan melupakan sama sekali peristiwa itu. Aku menganggapnya seolah tidak pernah terjadi. Aku sama sekali tidak ingat lagi dengan kejadian itu.

Sekitar empat bulan kemudian, aku dan calon istriku telah sepakat untuk menikah. Dia ingin agar aku bertandang ke rumahnya. Dia ingin memperkenalkanku dengan ke-luarganya. Dia menceritakan kepadaku bahwa di antara ke-luarganya yang tidak menyetujui hubunganku dengan dia adalah ayahnya. Mendengar itu, aku jadi kurang yakin, sehingga pada awalnya aku ingin 'mundur' saja, tetapi dia mendesak agar aku menghadap ayahnya langsung dan ber-terus terang kepadanya.

Dengan modal 'Bismillah' dan shalat sunnah dua rakaat, aku datang ke rumahnya membawa perasaanku yang tidak menentu.

Ibunya menyambutku ramah, tetapi tidak dengan ayah¬nya. Meski demikian, aku berusaha tersenyum ramah dan mencium tangan keduanya. Aku mengamati wajah ayahnya yang acuh terhadap ungkapanku yang jujur ingin menikahi putrinya. Dia bersikeras dengan alasan yang dibuat-buat. Aku sampai mengulang berkali-kali mengutarakan keinginan-ku, tetapi tetap tidak mampu mengubah pendiriannya. Aku pasrah dan sedikit merasa berputus asa.

Di antara kebisuanku di depan keluarganya, tiba-tiba muncul seorang nenek. Aku merasa seolah pernah bertemu nenek itu. Aku berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Nenek itu memandangiku tajam. Dia seolah sedang berpikir juga dan aku segera menyalaminya. Dia lalu menatap wajah putra-nya (ayah gadis itu) dan menanyakan pendapatnya tentang aku. Ayah gadis itu mengambil tangan ibunya dan membawa-nya masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pikiranku masih mencoba mengingat di mana aku pernah bertemu dengan nenek itu. Namun, aku tetap tidak mampu mengingatnya.

Setelah cukup lama duduk menunggu. Semua anggota keluarga gadis itu tiba-tiba berhamburan ke dalam ruangan tempat ayah dan nenek gadis itu masuk. Mereka semua seperti dipanggil untuk memusyawarahkan urusanku. Aku duduk seorang diri di ruang tamu, sambil mengharap jawaban yang membahagiakan. Perasaanku tidak menentu. Dalam pikiranku aku mempersiapkan diri untuk diterima atau di-tolak.

Nenek itu kemudian keluar sambil diiringi oleh semua anggota keluarganya, termasuk ayahnya. Dia menatapku dan aku masih berusaha mengingat di mana kami pernah bertemu. Dia lalu bertanya kepadaku, 'Apakah kamu kenal aku?"

Aku menjawab, "Saya tidak kenal/tapi sepertinya saya pernah bertemu nenek sebelum ini. Tetapi, saya tidak ingat di mana?" Jawabku sambil tetap berusaha mengingat tempat kami pernah bertemu.

"Kalau begitu, keinginanmu untuk menjadi salah satu anggota keluarga kami..., diterima!"

Semua anggota keluarga itu pun tersenyum. Suara riuh mendadak memenuhi isi rumah. Beberapa dari mereka sempat bertepuk tangan. Aku melihat calon istriku itu tersipu-sipu sambil memalingkan wajahnya ke dinding rumah dan tersenyum.

Di antara sorak riang dan kegembiraan mereka, aku masih tetap berusaha mengingat di mana aku pernah bertemu nenek itu. Akhirnya, nenek itu pun menceritakan kepadaku di mana dia pernah bertemu denganku."

Bapak itu tersenyum dan mengakhiri ceritanya dengan berucap, "Alhamdulillah, anakku sekarang sudah empat orang."

Kita terkadang sering tidak memperhatikan kebaikan yang nilainya terasa kecil, dan kita tidak peduli terhadap-nya. Seperti dalam kendaraan umum, ketika ada orang-orang yang sudah tua, wanita hamil, orang cacat dan sebagainya, dan mereka tidak memperoleh tempat duduk, sementara kita masih kuat dan sehat. Kita lebih memilih membiarkan mereka berdiri, meski kondisi mereka lemah.

Mendahulukan mereka adalah lebih baik dan merupakan akhlak mulia. Tanpa mengharapkan balasan dan tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun dari mereka, karena imbalan dan balasan yang paling baik hanya ada di sisi Allah swt. Hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan balasan.

Pahala dan kebahagiaan akhirat tidak hanya dari kebaikan-kebaikan besar. Justru kebaikan kecil terkadang memiliki pahala yang jauh lebih besar dari kebaikan yang' kita kira berpahala besar.

Anda tentu pernah mendengar Rasulullah saw. pernah bercerita kepada para sahabatnya kisah tentang seorang pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Anda juga tentu mengetahui sabda beliau tentang ganjaran pahala untuk orang yang menyingkirkan duri dari jalan umum. Semua itu merupakan kebaikan kecil di mata manusia dan sangat mudah dikerjakan, tetapi pahalanya sangat besar di sisi Allah swt.

Allah tidak pelit untuk membalas kebaikan kecil yang dilakukan hamba-Nya yang ikhlas. Meski ganjarannya kecil, tidak ada pahala sekecil apa pun di hari Kiamat nanti melainkan ia akan menjadi tempat bergantung harapan setiap hamba untuk mengantarkannya ke surga.

Dalam urusan keduniawian, tidak hanya karakter dan perbuatan baik dalam skala besar saja yang mengantarkan seseorang untuk meraih kebahagiaan. Akan tetapi, kebaikan kecil tidak jarang menjadi titik awal seseorang dalam meng-gapai kebahagiaan dan kesuksesan besar dan luar biasa dalam hidupnya.

Tidak ada seseorang yang terlahir ke dunia langsung sebagai orang dewasa yang memiliki segala sesuatu, tetapi dia mengawali hidup sebagai bayi yang tidak bisa apa-apa, ke-mudian menjadi anak-anak, remaja dan orang dewasa yang hidup bahagia dan sukses. Sama halnya dengan kebaikan, setiap kebaikan besar tentu dimulai dari kebaikan yang paling kecil.

Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur'an, "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (ar-Ra'd [13]: 29)

Share:

Popular Posts

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.